LABUAN BAJO, GBRNews.id –Turnamen Bola Voli Bupati Cup II Manggarai Barat 2025 berakhir antiklimaks. Perebutan juara 3 yang seharusnya menjadi hiburan tambahan justru memicu kontroversi dan kritik keras dari penonton.
Di kategori putri, laga perebutan tempat ketiga antara Golo Mori melawan Kobar yang dijadwalkan Kamis (25/9) malam batal digelar. Tim Kobar menolak tampil dengan alasan kelelahan lantaran jadwal terlalu mepet usai laga semifinal. Panitia kemudian memutuskan Golo Mori otomatis menyabet juara 3, sedangkan Kobar harus puas di posisi 4.
Padahal, di waktu yang sama baru saja selesai laga semifinal perebutan tiket final yang mempertemukan AWSTAR melawan Kobar. Kondisi ini membuat publik semakin bertanya-tanya soal manajemen jadwal pertandingan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Marsel, salah seorang penonton, menyoroti persoalan jadwal yang dinilai tidak dimanfaatkan dengan baik oleh penyelenggara.
“Masih ada waktu di hari Jumat (26/9), tapi panitia tidak manfaatkan itu. Padahal final baru berlangsung Sabtu (27/9). Seharusnya perebutan juara 3 bisa digeser agar pemain fit dan penonton tetap dapat tontonan,” tegasnya.
Namun, sorotan terbesar justru terjadi pada kategori putra. Pertandingan perebutan juara 3 antara Kerukunan Keluarga Bima Dompu (KKBD) melawan Manggarai Timur (Matim) tetap dijadwalkan meski Matim sebelumnya sudah dinyatakan Walk Out (WO) di semifinal melawan Kodim 1630 Mabar. Keputusan ini membuat KKBD keberatan karena menilai tim yang sudah WO seharusnya tidak bisa kembali tampil.
Pada akhirnya, panitia memutuskan KKBD sebagai juara 3 dan Matim di posisi 4. Kendati demikian, keputusan ini justru memantik perdebatan.
Sayangnya, keputusan tersebut tidak meredam kegaduhan. Justru sebaliknya, kritik deras mengalir dari tribun penonton.
“Kalau sudah WO, ya harusnya jelas out. Kenapa malah dikasih main lagi? Panitia bikin aturan seenaknya,” sindir seorang penonton.
Penonton lain, Sius, juga geram dengan cara panitia menangani situasi. “Panitia terlalu lama ambil sikap, akhirnya yang jadi korban penonton. Kita datang mau nonton seru, malah disuguhi tontonan kacau,” ujarnya.
Tak berhenti di situ, banyak penonton juga menyoroti inkonsistensi aturan. “Aturan di TM itu apa gunanya kalau akhirnya dilanggar panitia sendiri?” kritik seorang penonton lain dengan nada kecewa.
Turnamen yang sejatinya ditunggu masyarakat justru meninggalkan kekecewaan. Bukannya sorakan gembira di laga perebutan juara 3, yang tersisa hanyalah sorotan tajam publik terhadap manajemen pertandingan.**
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










