Labuan Bajo, GBRNews.id –Juru bicara pasangan calon (paslon) nomor urut 2, Edi-Weng, akhirnya buka suara terkait insiden kericuhan yang terjadi dalam debat pertama Pilkada Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat 2024, Rabu (16/10).
Servasius S. Ketua, jubir paslon tersebut, menegaskan bahwa peristiwa tersebut hanyalah hasil dari miskomunikasi, bukan kekerasan seperti yang diberitakan sejumlah media.
Menurut Ervas begitu disapa, masalah tersebut dipicu oleh ketidakpuasan tim paslon terhadap kualitas suara mikrofon saat calon wakil bupati mereka, Bapak Yulianus Weng, berbicara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Ervas sendiri mencoba menanyakan masalah teknis ini kepada tim sound system King Production selama jeda acara, namun karena suara musik yang keras, diskusi memanas dan memicu perdebatan singkat.
“Tidak ada adu jotos atau tindakan kekerasan. Ini murni miskomunikasi, dan masalah tersebut sudah diselesaikan secara damai,” ujar Ervas dalam klarifikasinya yang diterima Gbrnews.id pada Jumat (18/10) sore.
Berikut klarifikasi lengkapnya
Terkait Situasi “kericuhan” Disela-sela acara Debat Paslon, saya ingin menjelaskan Situasi sebenarnya:
1. Bahwa pada Session pertama, pemaparan Visi -Misi Paslon, ADA SITUASI dimana Audio (suara) dari Microphone di Podium, tepatnya saat Calon Wakil Bupati dari Paslon No. URUT 2, BpK de. YULIANUS Weng M Kes Melanjutkan pemaparan Visi-Misi, Audio (suara) sangat Kecil (nyaris tak terdengar) – bisa di cek kembali di Kanal Youtube KPU).
2. Saat Session pertama usai (jeda) saya kebelakang untuk menanyakan situasi Itu. Saya bertemu (berdiri didepan soundman), dan ingin menanyakan kondisi itu. Mungkin karna Suara Musik (saat jeda) cukup Besar, sehingga antara kami berdua tidak saling memahami Maksud Masing-masing, sehingga terjadi sedikit Perdebatan (adu mulut).
3. Adu Mulut Terjadi tidak lama, kemudian saya Memilih pergi dan meninggalkan Ruangan, dan Tidak ada Pengusiran/digiring keluar ruangan, tetapi karna situasi itu kemudian menjadi perhatian banyak Orang.
4. Kejadian tersebut murni miskomunikasi dan tidak ada gejala adu jotos seperti yang diberitakan.
5. Beberapa saat setelah Kejadian, saya bersama-sama teman-teman sound system (EO) bertemu, dan bicara secara damai.
6. Problem ini telah usai dan tidak perlu dibesar-besarkan jika punya niat baik untuk proses Pilkada damai dan berlangsung sukses.
7. Narasi “preman” yang diberitakan tidak dapat dibenarkan. Bahwa situasi tersebut murni aksi protes dari tim Edi Weng atas teknis sound sistem yang dinilai merugikan pihak Paslon EW. dan semua itu dilakukan guna memastikan proses debat berlangsung lancar tanpa ada pihak yang dirugikan.
8. Cita-cita dan Harapan kita sama, Bahwa Proses Pilkada, khususnya Acara Debat Pasangan Calon, harus berjalan Lancar dan sukses, karena Debat Paslon adalah Moment Penting Bagi Masyarakat untuk Mendengar dan memahami seluruh Visi-Misi dan Program-program Bakal Calon untuk Manggarai Barat Yang kita cintai.
TERIMAKASIH
SALAM DAMAI 🫰
SERVASIUS S. KETUA
King Production Jelaskan Kronologi Insiden
Pihak King Production, selaku event organizer (EO) debat tersebut, juga memberikan penjelasan terkait insiden yang melibatkan tim Edi-Weng.
Dani Unbanunaek, perwakilan King Production, menegaskan bahwa kericuhan terjadi karena salah paham, terutama terkait teknis mikrofon.
“Itu murni kesalahpahaman. Sebenarnya tidak ada apa-apa. Mungkin salah satu tim dari paslon 02 merasa ada unsur kesengajaan, tapi dari pihak kami tidak ada maksud seperti itu,” ungkap Dani kepada Gbrnews.id usai acara.
Dani menjelaskan bahwa insiden tersebut dipicu oleh kekecewaan tim paslon Edi-Weng terkait kualitas suara mikrofon saat kandidat wakil bupati mereka berbicara.
Menurutnya, tim paslon Edi-Weng merasa suara yang keluar dari mikrofon menurun secara signifikan, namun tim teknis King Production memastikan tidak ada manipulasi suara.
“Tim tersebut menganggap saat paslon 02 berbicara, kualitas suaranya menurun. Padahal, dari pengamatan kami, itu terjadi karena jarak mulut ke mikrofon terlalu jauh. Sebelumnya, saat kandidat calon bupati dari paslon 02 berbicara, mikrofon bekerja dengan baik. Namun, karena jarak yang tidak optimal, suara yang dihasilkan menjadi kecil. Tidak ada unsur kesengajaan seperti yang mereka duga,” beber Dani.
Mediasi Berakhir Damai
Beruntung, ketegangan ini tidak berlangsung lama. Berkat mediasi yang dilakukan oleh pihak kepolisian Polres Manggarai Barat, kedua belah pihak akhirnya bertemu dan sepakat untuk berdamai.
Dani memastikan bahwa permasalahan tersebut telah diselesaikan dengan baik.
“Untuk sementara kita sudah mediasi oleh pihak kepolisian Polres Manggarai Barat, kita sudah bertemu dan sudah berdamai. Masalah tadi itu sudah klir,” jelas Dani, Rabu (16/10) usai acara.
Ke depan, Dani berharap insiden seperti ini tidak terulang kembali. King Production, sebagai penyelenggara, berkomitmen untuk terus memberikan pelayanan terbaik dalam setiap acara yang mereka tangani.
“Kita selaku EO, semoga tidak ada lagi kejadian-kejadian seperti yang ada di debat pertama ini. Dan kami berupaya lebih baik,” pungkasnya. **
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










