Usaha Peti Jenazah Menjamur di Desa Golo Bilas, Warga Keluhkan Pemandangan Malam Hari

- Redaksi

Kamis, 12 Juni 2025 - 16:12 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Labuan Bajo, GBRNews.id –Menjamurnya usaha penjualan peti jenazah di Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, kini mulai menuai keluhan dari warga.

Meski dianggap membantu, terutama bagi keluarga yang tengah berduka, namun cara pemajangan peti-peti jenazah pada malam hari dinilai mengganggu kenyamanan lingkungan.

Saat ini, terdapat tiga tempat usaha penjualan peti jenazah di Dusun Merombok, Desa Golo Bilas. Ketiganya terletak di sepanjang Jalan Trans Flores, Labuan Bajo–Ruteng, dan berdekatan dengan RSUD Komodo.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tempat pertama berada di RT 005/RW 003, tak jauh dari pintu masuk dan keluar rumah sakit. Tempat kedua terletak sekitar 300 meter dari rumah sakit di RT 006/RW 003, dan tempat ketiga juga beralamat di RT 006/RW 003 namun berada agak jauh dari lokasi RSUD.

Meski banyak yang mengaku terbantu dengan kehadiran usaha ini, sebagian warga justru mengeluhkan pemandangan peti jenazah yang dipajang terbuka hingga malam hari.

“Khusus di RT 006 dekat tikungan sana, sudah lama kami keluhkan. Kami sudah sampaikan ke pemiliknya agar malam hari ditutup pakai kain gorden. Kami tidak menolak usaha ini, karena memang membantu, tapi tolong pikirkan juga kenyamanan warga sekitar,” ujar salah satu warga setempat kepada Gbrnews.id, Rabu malam (11/6/2025).

Menurut warga yang enggan disebutkan namanya itu, usaha peti jenazah berbeda dengan jenis usaha lainnya karena menyangkut kematian. Ia berharap pemilik usaha lebih sensitif terhadap lingkungan sosial di sekitarnya.

Kondisi malam hari di tempat usaha penjualan peti jenazah di Lingkungan di RT 006/RW 003, Dusun Merombok, Desa Golo Bilas, terletak di sepanjang Jalan Trans Flores, Labuan Bajo–Ruteng. [Foto Ist]
“Setiap hari kami melihat peti jenazah, jadi seperti ada rasa trauma tersendiri. Usaha ini kan berhubungan dengan hal yang sensitif. Harusnya bisa lebih bijak dalam menatanya,” lanjutnya.

Keluhan serupa juga datang dari Yudi, seorang karyawan hotel yang rutin melintas di jalur tersebut saat pulang malam.

“Kalau pulang piket malam lewat situ rasanya tidak nyaman. Peti-peti itu terlihat jelas di pinggir jalan, terbuka begitu saja. Harusnya malam hari ditutup,” ungkap Yudi.

Ia juga menyoroti bahwa pemilik usaha tampak mengabaikan dampak visual terhadap warga dan pengendara yang melintas.

“Ini sudah lama terjadi. Tapi sepertinya pemilik usaha tidak peduli,” tutupnya.

Menanggapi keresahan warga tersebut, Pelaksana Harian (PLH) Kepala Desa Golo Bilas, Fabianus Galgani, menyatakan bahwa pihak desa akan segera mengambil langkah.

“Keluhan itu kita akan tindaklanjuti. Dari Pemdes mungkin Kepala Dusunnya (Kadus) yang kita utus guna mengecek. Kita akan panggil semua pemilik usaha itu nanti,” tegas PLH Bian saat dihubungi Gbrnews.id, Kamis siang (12/6).

Warga berharap, ada penataan ulang cara usaha ini dijalankan. Mereka tak menolak usaha peti jenazah, tapi meminta agar tetap menghargai kenyamanan lingkungan, terutama di malam hari. (*)

Penulis : Rino

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Hampir 2 Bulan Pascagempa, 240 Huntara Tahap Satu di Mabar Belum Dibangun
Sebulan Berlalu, Polres Mabar Belum Ungkap Perkembangan Kasus Wasit Fredi
Beredar Isu Panas Pilkades Macang Tanggar, Selisih 1 Suara Dipersoalkan, Dinamika Horizontal Mencuat
Polres Mabar Resmi Tetapkan Emiliana Helni Tersangka Kasus Dugaan ITE
Kuasa Hukum Korban Desak Transparansi Kasus Dua Prajurit TNI di Mabar, Surati Panglima TNI hingga DPR RI
Hasil Pilkades Tiga Desa di Kecamatan Boleng, Ini Cakades Terpilih dan Raihan Suaranya
Berikut Nama-Nama Cakades Terpilih di Kecamatan Komodo, Nardin Raih Suara Terendah
Hasil Pilkades Kecamatan Komodo, Ibrahim Ndung Tertinggi 1.015 Suara, Alimudin 545
Berita ini 13 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 23:27 WITA

Hampir 2 Bulan Pascagempa, 240 Huntara Tahap Satu di Mabar Belum Dibangun

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:42 WITA

Sebulan Berlalu, Polres Mabar Belum Ungkap Perkembangan Kasus Wasit Fredi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 23:19 WITA

Beredar Isu Panas Pilkades Macang Tanggar, Selisih 1 Suara Dipersoalkan, Dinamika Horizontal Mencuat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:02 WITA

Polres Mabar Resmi Tetapkan Emiliana Helni Tersangka Kasus Dugaan ITE

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:20 WITA

Kuasa Hukum Korban Desak Transparansi Kasus Dua Prajurit TNI di Mabar, Surati Panglima TNI hingga DPR RI

Berita Terbaru