LABUAN BAJO, GBRNews.id – Ribuan umat Muslim di Labuan Bajo tumpah ruah memadati jalanan kota dalam Gema Takbir Keliling 1447 H/2026 M yang digelar oleh Pengurus Hari Besar Islam (PHBI) Kabupaten Manggarai Barat, Jumat (20/3) malam.
Pantauan media ini, sejak matahari terbenam, suasana kota wisata itu berubah menjadi lautan takbir. Lantunan “Allahu Akbar” menggema, mengiringi ribuan langkah kaki yang berjalan khidmat, menghadirkan nuansa religius yang memikat.
Menariknya, kemeriahan malam takbiran ini tak hanya menyedot perhatian warga lokal, tetapi juga para wisatawan yang tengah berlibur di Labuan Bajo.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT

Terpantau, sejumlah turis tampak memadati trotoar dan titik-titik strategis sepanjang rute, mengabadikan momen dengan kamera ponsel mereka. Tak sedikit yang terpukau menyaksikan perpaduan antara tradisi keagamaan dan suasana kota destinasi internasional tersebut.
Lebih lanjut, sekitar pukul 20.00 WITA, pawai takbir resmi dilepas oleh Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Wakil Bupati, Yulianus Weng, disusul pelepasan simbolis oleh Dandim 1630, Budiman Manurung, menambah semarak dimulainya pawai malam takbiran tersebut.
Sejumlah tokoh lintas agama dan pejabat daerah turut hadir, di antaranya Ketua PCNU Manggarai Barat Ishak Jabi, Ketua FKUB Richardus Manggu, Kepala KSOP Kelas III Labuan Bajo Stephanus Risdiyanto, Kadis Perhubungan Adrianus Gunawan, hingga Kasat Pol PP Yeremias Ontong.
Dari Masjid Agung Nurul Falaq, peserta berjalan menyusuri ruas utama kota—melewati Jalan Soekarno-Hatta, kawasan Balai Taman Nasional Komodo (BTNK), Patung Komodo, Puncak Waringin, hingga Kampung Ujung—sebelum berakhir di Waterfront Labuan Bajo.
Di titik finis, peserta kembali berkumpul dan melantunkan takbir bersama, menciptakan suasana haru yang sarat makna dalam menyambut Hari Raya Idulfitri.
Ketua PHBI Manggarai Barat, Haji Djainuddin H. Ali, mengungkapkan bahwa pelaksanaan tahun ini berbeda dari sebelumnya. Jika tahun-tahun lalu pawai menggunakan kendaraan dengan ornamen meriah, kini peserta diajak berjalan kaki dengan penerangan sederhana dari lampu ponsel.
“Tahun ini kami mencoba kembali ke nuansa sederhana. Tidak lagi menggunakan kendaraan agar lebih khidmat dan menghindari hal-hal yang bersifat hura-hura,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan obor sengaja ditiadakan demi faktor keamanan.
“Risikonya cukup besar, terutama potensi percikan api. Karena itu kami memilih menggunakan senter handphone agar lebih aman,” tambahnya.
Menariknya, kegiatan ini turut melibatkan muda-mudi Katolik sebagai bagian dari pengamanan, mencerminkan nilai toleransi yang kuat.
“Inilah indahnya kebersamaan. Kita saling mendukung dalam setiap kegiatan keagamaan,” katanya.
Ia pun mengimbau seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kebersihan selama rangkaian takbiran berlangsung.
Kegiatan ini berjalan aman dan tertib berkat pengawalan dari Polres Manggarai Barat, Kodim 1630 Manggarai Barat, Brimob, Dinas Perhubungan, Satpol PP, serta pengurus BKM Masjid Agung Nurul Falaq.

Panitia juga menyiagakan dua unit ambulans dari RSUD Komodo dan Polres Manggarai Barat, serta posko air minum di sepanjang rute untuk memastikan kenyamanan peserta.
Gema Takbir Keliling ini tak sekadar menjadi tradisi tahunan, tetapi juga momentum mempererat persaudaraan, memperkuat toleransi, dan menggaungkan syiar Islam di tengah keberagaman masyarakat Manggarai Barat. **
Penulis : Sarifudin
Editor : Redaksi










