NTT Tertinggi di Indonesia, 3.237 Desa Masih Gunakan Kayu Bakar

- Redaksi

Selasa, 19 Mei 2026 - 18:06 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Memasak dengan Kayu Bakar/Foto Net.

Memasak dengan Kayu Bakar/Foto Net.

LABUAN BAJO, GBRNews.id – Sebanyak 3.237 desa di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama untuk memasak pada 2025. Jumlah tersebut menjadikan NTT sebagai provinsi dengan penggunaan kayu bakar tertinggi di Indonesia.

Di tengah dominasi penggunaan gas LPG sebagai bahan bakar rumah tangga modern, kayu bakar ternyata masih menjadi pilihan utama masyarakat di berbagai wilayah, terutama di kawasan timur Indonesia. Faktor akses, ekonomi, hingga budaya membuat penggunaan energi tradisional ini belum sepenuhnya ditinggalkan.

Posisi kedua ditempati Papua Pegunungan dengan 2.524 desa yang masih menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakar utama untuk memasak. Sementara itu, Papua Tengah tercatat memiliki 1.090 desa pengguna kayu bakar, disusul Maluku sebanyak 835 desa.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Kemudian Papua Barat Daya mencatat 780 desa pengguna kayu bakar, diikuti Papua Barat dengan 776 desa dan Papua sebanyak 772 desa yang masih bergantung pada kayu bakar sebagai sumber energi rumah tangga.

Sementara itu, Sumatra Utara memiliki 765 desa pengguna kayu bakar. Sedangkan Maluku Utara tercatat sebanyak 640 desa, dan Papua Selatan berada di posisi berikutnya dengan 588 desa yang masih memanfaatkan kayu untuk kebutuhan memasak sehari-hari.

Data tersebut menunjukkan penggunaan kayu bakar masih didominasi wilayah timur Indonesia. Kondisi ini sekaligus menjadi gambaran bahwa transisi energi rumah tangga menuju bahan bakar modern belum merata sepenuhnya.

Akses LPG Masih Jadi Kendala

Masih tingginya penggunaan kayu bakar tidak lepas dari sulitnya akses masyarakat terhadap gas LPG, terutama di wilayah pedesaan dan pelosok.

Di sejumlah daerah, masyarakat harus menempuh perjalanan cukup jauh hanya untuk mendapatkan isi ulang tabung gas. Selain menyita waktu, kondisi itu juga membutuhkan biaya transportasi tambahan yang tidak sedikit.

Sebaliknya, kayu bakar lebih mudah diperoleh karena banyak warga tinggal di dekat kebun atau lahan terbuka yang menyediakan ranting dan kayu kering melimpah. Kayu juga dianggap lebih hemat, terutama untuk memasak dalam jumlah besar.

Fenomena kelangkaan bahan bakar minyak di beberapa daerah turut mendorong sebagian masyarakat kembali memanfaatkan bahan bakar tradisional. Belum lagi jika harga LPG mengalami kenaikan akibat dampak ketidakpastian global yang memengaruhi kondisi nasional.

Faktor Budaya dan Cita Rasa

Selain faktor ekonomi dan aksesibilitas, penggunaan kayu bakar juga berkaitan erat dengan budaya masyarakat lokal.

Sebagian warga masih percaya bahwa memasak menggunakan tungku kayu menghasilkan cita rasa makanan yang lebih sedap dengan aroma khas. Tingkat kematangan masakan juga dianggap lebih merata dibandingkan kompor modern.

Bagi sebagian masyarakat, penggunaan kayu bakar bukan sekadar kebutuhan dapur, tetapi juga bagian dari tradisi kuliner yang diwariskan secara turun-temurun.

Meski demikian, tingginya penggunaan kayu bakar juga menjadi tantangan tersendiri bagi upaya transisi menuju energi rumah tangga yang lebih modern, efisien, dan ramah lingkungan di Indonesia. **

Sumber: BPS

Penulis : Rino

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Sebulan Berlalu, Polres Mabar Belum Ungkap Perkembangan Kasus Wasit Fredi
Beredar Isu Panas Pilkades Macang Tanggar, Selisih 1 Suara Dipersoalkan, Dinamika Horizontal Mencuat
Polres Mabar Resmi Tetapkan Emiliana Helni Tersangka Kasus Dugaan ITE
Kuasa Hukum Korban Desak Transparansi Kasus Dua Prajurit TNI di Mabar, Surati Panglima TNI hingga DPR RI
Hasil Pilkades Tiga Desa di Kecamatan Boleng, Ini Cakades Terpilih dan Raihan Suaranya
Berikut Nama-Nama Cakades Terpilih di Kecamatan Komodo, Nardin Raih Suara Terendah
Hasil Pilkades Kecamatan Komodo, Ibrahim Ndung Tertinggi 1.015 Suara, Alimudin 545
Pilkades Mbeliling, 3 Petahana Tumbang, Quirinus Urudin Raih Suara Tertinggi 388
Berita ini 18 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 06:42 WITA

Sebulan Berlalu, Polres Mabar Belum Ungkap Perkembangan Kasus Wasit Fredi

Minggu, 4 Oktober 2026 - 23:19 WITA

Beredar Isu Panas Pilkades Macang Tanggar, Selisih 1 Suara Dipersoalkan, Dinamika Horizontal Mencuat

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 23:02 WITA

Polres Mabar Resmi Tetapkan Emiliana Helni Tersangka Kasus Dugaan ITE

Sabtu, 3 Oktober 2026 - 14:20 WITA

Kuasa Hukum Korban Desak Transparansi Kasus Dua Prajurit TNI di Mabar, Surati Panglima TNI hingga DPR RI

Kamis, 1 Oktober 2026 - 13:06 WITA

Hasil Pilkades Tiga Desa di Kecamatan Boleng, Ini Cakades Terpilih dan Raihan Suaranya

Berita Terbaru