LABUAN BAJO, GBRNews.id – Babi menjadi salah satu hewan ternak yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan diolah menjadi berbagai jenis makanan di banyak negara, termasuk Indonesia. Tak hanya untuk konsumsi lokal, komoditas ini juga menjadi bagian dari rantai perdagangan dan pasokan daging nasional.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), populasi babi di Indonesia pada 2025 mencapai sekitar 3,65 juta ekor. Angka tersebut mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya, menandakan sektor peternakan babi masih menjadi andalan di sejumlah daerah.
Dari seluruh provinsi di Indonesia, Nusa Tenggara Timur (NTT) tercatat sebagai wilayah dengan populasi babi terbesar secara nasional. Jumlahnya bahkan menembus 1.083.286 ekor atau hampir sepertiga dari total populasi babi nasional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Tingginya populasi ternak babi di NTT tidak terlepas dari kuatnya budaya masyarakat setempat. Di banyak daerah di Flores, Timor, hingga Sumba, babi bukan sekadar hewan ternak biasa, tetapi memiliki nilai sosial, budaya, dan ekonomi yang sangat penting.
Dalam tradisi masyarakat NTT, babi kerap menjadi bagian utama dalam upacara adat, pesta keluarga, ritual keagamaan, hingga prosesi perkawinan atau belis. Karena itu, hampir setiap rumah tangga di pedesaan memelihara ternak babi sebagai simbol status sekaligus tabungan keluarga.
Di posisi kedua terdapat Sulawesi Selatan dengan populasi mencapai 474.070 ekor. Besarnya angka ini dipengaruhi budaya masyarakat Toraja yang menjadikan babi sebagai hewan penting dalam ritual adat Rambu Solo, yang membutuhkan ternak dalam jumlah besar.
Sementara Bali berada di urutan ketiga dengan 433.481 ekor. Tingginya populasi babi di Pulau Dewata didorong kebutuhan konsumsi lokal, terutama untuk kuliner khas seperti babi guling, serta permintaan dari sektor pariwisata yang terus berkembang.
Papua Tengah menempati posisi keempat dengan 417.425 ekor. Di wilayah pegunungan Papua, babi memiliki nilai sosial tinggi dan sering dijadikan simbol kekayaan, alat barter, hingga penopang ketahanan pangan masyarakat adat.
Sedangkan Sumatera Utara berada di posisi kelima dengan jumlah 263.675 ekor. Sentra peternakan babi di provinsi ini tersebar di kawasan Danau Toba dan Kepulauan Nias yang dikenal memiliki tingkat konsumsi daging babi cukup tinggi.
Papua Pegunungan berada di urutan keenam dengan populasi 109.196 ekor. Meski berada di wilayah yang cukup terpencil, budaya bakar batu dan tradisi barter membuat ternak babi tetap menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Sulawesi Tengah menyusul di posisi ketujuh dengan 103.635 ekor, disusul Kalimantan Tengah sebanyak 94.882 ekor yang didominasi peternakan rakyat berskala tradisional.
Lampung berada di peringkat kesembilan dengan 68.184 ekor. Provinsi ini mulai berkembang sebagai daerah penyangga pasokan daging babi untuk wilayah perkotaan, termasuk Jakarta.
Sementara Kalimantan Barat menutup daftar 10 besar dengan populasi mencapai 62.511 ekor. Sebagian besar ternak babi di wilayah ini dipelihara masyarakat pedalaman dan perbatasan untuk kebutuhan adat maupun konsumsi lokal.
Source: BPS
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










