Labuan Bajo, GBRNews.id –Sebuah kebakaran hebat melalap rumah pasangan Taufik Suldi (40) dan Nur Wahyuni (35) di Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, NTT.
Api begitu cepat menghanguskan seluruh bangunan, menyisakan puing-puing dan abu. Namun, di tengah reruntuhan, sebuah keajaiban terjadi, tiga Alquran ditemukan utuh, seakan tak tersentuh api.
Lebih mengharukan lagi, Nur Wahyuni memiliki tiga orang anak yang semuanya selamat dari tragedi ini. Seolah ada pesan tersembunyi di balik musibah ini: tiga Alquran yang tetap utuh dan tiga anak yang tetap dilindungi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Rumah Rata dengan Tanah
Kebakaran terjadi pada Sabtu (1/2/2025) sekitar pukul 11.29 Wita, akibat korsleting listrik yang bermula dari kamar depan.
Dalam sekejap, api membesar dan menjalar ke seluruh rumah, membakar setiap perabotan, pakaian, uang tunai Rp200 juta, serta seluruh isi lemari.

Penemuan Alquran yang Mengejutkan
Saat puing-puing mulai dibersihkan, awak media yang meliput kejadian ini menemukan sebuah Alquran dalam kondisi terbuka dan utuh, seolah tak tersentuh api. Tak lama berselang, warga menemukan satu Alquran lainnya, juga dalam keadaan utuh.
Keajaiban ini semakin mengundang perhatian setelah foto-foto Alquran tersebut diunggah ke media sosial. Lebih mengejutkan, salah satu Alquran itu terbuka pada halaman yang memuat Surat Al-Baqarah Ayat 286:
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
Ayat ini menjadi viral dan memicu berbagai reaksi. Bahkan seorang jurnalis Katolik yang meliput kejadian ini mengaku terkejut setelah mengetahui terjemahan ayat tersebut.

Senin (3/2/2025), saat puing-puing kembali dibersihkan, Asbar, saudara Nur Wahyuni, menemukan satu Alquran lainnya.
Kitab suci ini ditemukan di dalam lemari plastik yang sudah meleleh akibat panasnya api. Namun, Alquran itu tetap utuh, hanya bagian sampul belakang yang sedikit terbakar.
“Tadi pagi saya kembali membersihkan sisa kebakaran. Saya melihat lemari plastik yang sudah melebur seperti cangkang. Di sudutnya, ada lembaran buku. Setelah saya congkel dengan linggis, ternyata itu Alquran,” kisah Asbar kepada Gbrnews.id.
Asbar mengaku saat menyerahkan Alquran, Nur Wahyuni menangis tersedu-sedu. Baginya, kitab ini bukan sekadar buku suci, tetapi sahabat dalam doa dan ibadah, terutama saat dirinya tengah menghadapi kesedihan mendalam selama seminggu terakhir.
“Kakak mama Anggun ini orangnya taat ibadah. Sempat cerita tadi, kurang lebih satu minggu ini dia sedih sekali. Semua kesedihannya dibawa dalam doa dan selalu baca alquran yang saya temukan tadi pagi,” tambahnya.
Lebih mengharukan, Nur Wahyuni memiliki tiga anak, yang masing-masing seolah memiliki kisah sendiri terkait musibah ini.
Anggun Saputri (14), anak sulung yang jauh dari rumah.
Siswi kelas 3 di sebuah pondok pesantren di Yogyakarta ini sedang menimba ilmu jauh dari rumah saat kebakaran terjadi.
Kabar kebakaran ini membuatnya syok. Ia menangis ketika mengetahui bahwa rumah tempatnya tumbuh besar telah ludes dari medsos dan temannya. Namun, ia merasa lega ketika tahu bahwa kedua orang tuanya dan dua adiknya selamat.
Andini Ramadani Putri (8), anak keduanya, siswi kelas 1 SDI Waemata di Desa Gorontalo.
Kebakaran berlangsung, Andini sedang berada di sekolah. Ia tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi sampai akhirnya dijemput oleh keluarga.
Setibanya di lokasi, ia hanya bisa menatap puing-puing rumahnya dengan mata penuh kebingungan. Namun, nenek, kakek serta keluarga lain berusaha menenangkannya, berkata bahwa semua akan baik-baik saja.
Safik Abdila (1), anak bungsunya yang masih bayi.
Bayi mungil ini tengah berada dalam gendongan ibunya di RSUD Komodo, menjenguk neneknya saat kebakaran terjadi. Ia masih terlalu kecil untuk memahami kehilangan yang mereka alami.
Namun, bagi Nur Wahyuni, melihat ketiga anak dan suaminya selamat sudah menjadi penghiburan terbesar.

Nur Wahyuni dan keluarganya dikenal sebagai pengusaha sukses di bidang beras dan kopi di Labuan Bajo. Namun, musibah ini membawa duka yang begitu dalam.
Ia mengalami trauma berat hingga sempat dilarikan ke RSUD Komodo sebelum akhirnya diperbolehkan pulang.
Kini, ia dan keluarganya mengungsi di rumah orang tuanya, Alimudin, yang tak jauh dari lokasi kebakaran.
Meski kehilangan segalanya, beberapa barang berharga masih terselamatkan, seperti satu unit mobil pickup Suzuki Carry, satu motor Honda Vario, serta gudang beras dan kopi mereka. (*)
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










