Kematian Elda, Luka Mendalam yang Mengoyak Hati Ibu dan Adik-Adiknya

- Redaksi

Senin, 7 Oktober 2024 - 16:41 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Labuan Bajo, GBRNews.id –Kematian tragis Sustiana Melci Elda, atau yang akrab disapa Elda, pada Kamis (3/10/2024) kemarin, menyisakan luka yang dalam bagi keluarganya.

Wanita berusia 23 tahun itu ditemukan tewas mengenaskan di rumah suaminya di Desa Nggilat, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Kasus ini kini menjadi perhatian publik dan pihak Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat, yang tengah menyelidiki dugaan penganiayaan berat yang berujung pada kematian.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ayah Elda, Adrianus Jehadun, melaporkan kejadian tersebut pada Jumat pagi, 4 Oktober 2024, dengan nomor laporan resmi STTL/GANGGUAN/B/1/X/2024/SPKT Polres Manggarai Barat.

Elda: Cahaya Keluarga yang Hilang

Bagi keluarganya, Elda bukan hanya sekadar anak dan kakak, tetapi juga sosok inspiratif yang selalu menjadi sumber kekuatan bagi mereka.

Natilia Din, ibu kandung Elda, mengenang putri sulungnya sebagai seorang perempuan tangguh yang selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan semua orang, termasuk dengan keluarga suami.

Di balik kelembutannya, Elda menyimpan ketegaran yang luar biasa. “Dia tidak pernah menyerah, selalu tegar meski dalam situasi sesulit apapun,” kenang Natilia kepada Gbrnews.id, Senin (7/10).

Sebagai satu-satunya anak perempuan di keluarga dengan tiga saudara laki-laki, Elda adalah tiang penopang keluarga.

Kepergian Elda, bagi Natilia, tak hanya kehilangan seorang anak, tetapi juga sosok yang selalu menguatkan di tengah berbagai tantangan hidup.

Pernikahan yang Tertunda dan Masa Depan yang Tak Terselesaikan

Sejak berkeluarga dengan Eduardus Ungkang pada 2020, Elda menjalani kehidupan rumah tangga yang tidak mudah. Meski telah melalui prosesi ‘Toto Adat’ (tunangan secara adat Manggarai), pernikahan mereka secara Gereja belum terselesaikan hingga 2024, karena terkendala masalah ekonomi.

Dari hubungan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan, Aurelia Cecilia Oktaviasari, yang kini berusia dua tahun. Namun, kehidupan yang seharusnya menjadi awal bahagia bagi Elda berakhir dengan kesedihan yang mendalam.

Kehilangan yang Mendalam Bagi Adik-Adik Elda

Bagi adik-adiknya, kepergian Elda adalah luka yang sukar sembuh. Ofantus Jefrin (20), adik kedua Elda, mengingat kakaknya sebagai sosok yang sabar dan penuh kasih sayang.

“Kak Elda adalah tulang punggung bagi kami. Dia selalu menasehati saya dan menjadi panutan dalam keluarga,” kata Jefrin dengan suara bergetar.

Ia mengenang saat menerima kabar duka itu di tempat kerjanya, merasa terpukul dan sulit mempercayai kenyataan yang pahit.

Sementara itu, Aprianus Tri Putra (14), yang masih duduk di bangku SMP, merasa terpukul.

“Rasanya seperti mimpi buruk. Kak Elda selalu menyemangati saya untuk tetap belajar dan bersekolah, dan sekarang dia sudah tidak ada,” katanya sambil berusaha menahan tangis.

Adik bungsu, Helarius Jois (9), yang masih duduk di bangku kelas empat SD, merasakan kehilangan yang begitu mendalam.

“Kak Elda selalu menelpon menanyakan kabar saya. Dia sangat baik dan penyayang,” ucapnya polos, tak mampu menyembunyikan kesedihan di matanya.

Tragedi ini meninggalkan luka yang tak tergantikan bagi keluarga Elda. Anak yang ditinggalkan, adik-adik yang kehilangan panutan, dan orang tua yang kini hidup dengan kesedihan mendalam.

Mereka tidak hanya meratapi kepergian Elda, tetapi juga berharap agar keadilan ditegakkan. Kematian Elda menyisakan banyak pertanyaan, namun satu hal yang pasti kenangan akan kebaikan, ketegaran, dan cinta kasihnya akan terus hidup di hati mereka.

Keluarga berharap agar roh Elda kini menjadi pendoa bagi mereka yang ditinggalkan, terutama untuk putri kecilnya, Aurelia, yang kini harus tumbuh tanpa kasih sayang ibunya.

Sementara itu, mereka berharap agar polisi dapat segera mengungkap kasus ini dan menuntut pertanggungjawaban bagi mereka yang terlibat, sehingga Elda dapat beristirahat dengan tenang. **

Penulis : Rino

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan
PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace
PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0
Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol
PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick
PSSI Cup II Manggarai Barat Butuh Rp375 Juta, Panitia Baru Kantongi 35 Persen
Berikut Jadwal Resmi Babak Penyisihan Grup PSSI Cup II Manggarai Barat 2026
Bastian Bawa Uma Lantar Menang di Laga Pembuka PSSI Cup II Manggarai Barat
Berita ini 9 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:00 WITA

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:47 WITA

PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:01 WITA

PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:55 WITA

Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:41 WITA

PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick

Berita Terbaru