LABUAN BAJO, GBRNews.id – Penanganan darurat pascagempa bumi yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus dilakukan. Tak hanya rumah warga dan fasilitas umum, sektor pendidikan juga ikut terdampak cukup parah akibat gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8).
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) Prof. Dr. Atip Latipulhayat mengungkapkan kondisi tersebut dalam konferensi pers virtual di Media Center Pos Pendamping Nasional Penanganan Darurat Gempa Bumi M7,7 NTT, Kamis (20/8).
Dihimpun, berdasarkan data Kemendikdasmen, sejumlah peserta didik dan tenaga pendidik turut menjadi korban dalam bencana tersebut. Dampak juga dirasakan pada infrastruktur pendidikan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Sebanyak 1.378 satuan pendidikan dilaporkan terdampak gempa. Dari jumlah tersebut, 502 sekolah mengalami kerusakan berat.
Kerusakan tersebut membuat aktivitas belajar mengajar di sejumlah wilayah harus terhenti. Meski demikian, pemerintah memastikan proses pendidikan tetap diupayakan berjalan dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan masing-masing daerah terdampak.
Kemendikdasmen bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan sejumlah instansi terkait bergerak cepat untuk memastikan anak-anak di wilayah terdampak tetap mendapatkan layanan pendidikan di tengah situasi darurat.
Tim Kemendikdasmen juga telah berada di wilayah terdampak sejak 16 Agustus untuk menyalurkan bantuan ke sejumlah daerah.
Selain bantuan, Kemendikdasmen menerbitkan panduan pembelajaran pada masa darurat. Panduan tersebut memberikan fleksibilitas dalam penggunaan moda dan materi pembelajaran, sekaligus memuat dukungan psikososial bagi peserta didik dan tenaga pendidik yang terdampak bencana.
Langkah ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan pendidikan sekaligus membantu pemulihan psikologis anak-anak NTT setelah menghadapi bencana.
Semangat belajar di tengah situasi darurat menjadi bagian penting dari upaya pemulihan pascagempa Flores. **
Penulis : Sarifudin
Editor : Redaksi






