Dermaga Era Fidelis Pranda Kini Tinggal Kenangan di Tengah Pesona Golo Mori

- Redaksi

Rabu, 27 Mei 2026 - 01:23 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kondisi dermaga tua peninggalan era Fidelis Pranda di Kampung Soknar, Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, yang kini tampak lapuk dan rusak dimakan usia, Selasa sore, 26 Mei 2026. Foto: Rino/GBRNews.id 

Kondisi dermaga tua peninggalan era Fidelis Pranda di Kampung Soknar, Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, yang kini tampak lapuk dan rusak dimakan usia, Selasa sore, 26 Mei 2026. Foto: Rino/GBRNews.id 

LABUAN BAJO, GBRNews.idSenja perlahan turun di pesisir Kampung Soknar, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa 26 Mei 2026 sore. Langit berubah jingga keemasan, sementara cahaya matahari yang tenggelam memantul lembut di permukaan laut selatan Labuan Bajo.

Perahu-perahu nelayan tampak terapung tenang di antara riak ombak kecil. Dari kejauhan, perbukitan Golo Mori berdiri megah membentuk siluet gelap yang menambah keindahan senja di pesisir itu.

Namun di tengah panorama yang memikat mata tersebut, berdiri sebuah ironi yang sulit diabaikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebuah dermaga kayu tua menjulur ke laut dalam kondisi memprihatinkan. Tiang-tiang penyangganya keropos dimakan usia dan air laut. Sebagian papan pijakan telah terlepas dan menggantung miring, nyaris roboh diterjang ombak.

Padahal dahulu, dermaga itu menjadi pusat aktivitas masyarakat nelayan Soknar.

Dermaga sepanjang sekitar 270 meter tersebut dibangun pada tahun 2010, pada masa akhir transisi pemerintahan Bupati Manggarai Barat saat itu, Fidelis Pranda. Saat pertama kali berdiri, dermaga itu menjadi tempat bersandar perahu-perahu nelayan yang pulang melaut.

Kini, bangunan yang dulu menjadi urat nadi masyarakat pesisir itu perlahan tinggal kenangan.

Muhamad Said dan Dermaga yang Tak Lagi Menjadi Tempat Bersandar

Di bawah langit senja yang mulai meredup, Muhamad Said duduk sendiri di bibir Pantai Soknar. Di sampingnya, gulungan jala yang koyak terbentang di atas pasir. Jemarinya yang mulai renta bergerak pelan, menjahit satu per satu tali pukat yang putus akibat kerasnya arus laut.

Sesekali ia berhenti bekerja. Tatapannya mengarah jauh ke ujung dermaga tua yang berdiri sunyi di atas laut.

Dermaga kayu itu tampak rapuh. Sebagian papan pijakannya hilang, sementara tiang-tiang penyangga yang tersisa terlihat miring dan keropos diterpa air asin selama bertahun-tahun.

Di mata orang lain, bangunan itu mungkin hanya tumpukan kayu tua yang menunggu roboh. Namun bagi Said, dermaga itu menyimpan terlalu banyak kenangan.

Dari tempat itulah dulu perahu-perahu nelayan bersandar setiap petang. Suara tawa warga bercampur hiruk-pikuk aktivitas bongkar ikan pernah memenuhi kawasan pesisir Soknar. Anak-anak kecil berlarian di atas papan dermaga, sementara para ibu menunggu suami mereka pulang melaut.

Kondisi dermaga tua peninggalan era Fidelis Pranda di Kampung Soknar, Desa Golo Mori, Kabupaten Manggarai Barat, yang kini tampak lapuk dan rusak dimakan usia, Selasa sore, 26 Mei 2026. Foto: Rino/GBRNews.id 

Kini, semua suasana itu perlahan menghilang bersama lapuknya kayu-kayu dermaga.

“Dulu, setelah dibangun, perahu-perahu nelayan bersandar di dermaga ini. Sekarang kondisinya sudah rusak begini, tidak bisa dipakai lagi,” tutur Said lirih saat berbagi kisah dengan awak media GBRNews.id, Selasa sore.

Kalimat itu meluncur pelan, tetapi terasa berat.

Said mengaku, sejak dermaga rusak, aktivitas nelayan menjadi jauh lebih sulit. Perahu-perahu kini terpaksa ditarik langsung ke bibir pantai. Saat ombak besar datang, para nelayan harus berjibaku menyelamatkan perahu dan hasil tangkapan agar tidak dihantam gelombang.

Bagi masyarakat Soknar, dermaga itu bukan sekadar fasilitas penunjang. Ia adalah urat nadi kehidupan.

Kekecewaan Said semakin dalam ketika mengingat berbagai janji yang datang silih berganti setiap musim politik tiba.

Menurutnya, banyak politisi pernah datang ke Kampung Soknar, berdiri di hadapan warga, lalu menjanjikan perbaikan dermaga. Namun waktu terus berjalan tanpa perubahan berarti.

“Pas kampanye, banyak yang bilang mau bantu teruskan suara kita dari bawah ini. Tapi praktiknya, tidak ada realisasi,” keluhnya.

Tak hanya soal dermaga, Said juga menyinggung bantuan alat tangkap dari pemerintah yang dinilainya kerap tidak tepat sasaran.

“Bantuan ada, tapi tidak tepat sasaran,” katanya pelan.

Meski demikian, di tengah rasa kecewa yang panjang itu, Said masih menyimpan harapan sederhana. Ia tidak meminta banyak.

“Pokoknya hanya ini saja dermaganya tempat nelayan sandar perahu. Maunya ya dibangun,” ujarnya.

Kalimat itu terdengar singkat.

Tetapi dari bibir nelayan tua di pesisir Soknar itu, harapan tersebut terasa seperti doa yang terus dijaga agar tidak ikut tenggelam bersama rapuhnya dermaga tua di kampung mereka.

Muhammad Nasir dan Laut Soknar yang Sedang Bermurah Hati

Ironisnya, di tengah kondisi dermaga yang rusak dan keterbatasan fasilitas, laut Soknar justru sedang bermurah hati.

Beberapa pekan terakhir, hasil tangkapan nelayan meningkat drastis. Laut di sekitar pesisir Golo Mori seolah sedang menghadiahkan musim panen bagi masyarakat nelayan.

Muhammad Nasir, salah satu nelayan Soknar, mengatakan dalam sehari para nelayan bisa memperoleh ratusan kilogram hingga lebih dari satu ton ikan.

“Kisarannya standar di atas 200 kilo satu hari. Bahkan kalau hari ini, ikan Kombong kurang lebih 400 kilo. Kemarin hampir satu ton, bahkan lebih,” ujarnya.

Ia bercerita, sehari sebelumnya dirinya berhasil mengumpulkan 16 boks ikan Kombong dengan berat sekitar 42 kilogram per boks.

“Kalau dihitung semua jenis ikan, minimal hampir satu ton, bahkan lebih dari satu ton,” katanya.

Di pesisir Soknar, kehidupan bergerak mengikuti irama laut.

Anak-anak kecil berlarian tanpa alas kaki di pasir pantai. Para perempuan sibuk menyiapkan wadah penampung ikan. Lelaki-lelaki dewasa bergantian membongkar hasil tangkapan sambil bercengkerama di bawah langit senja.

Laut terus memberi kehidupan.

Tetapi kehidupan itu terasa timpang ketika infrastruktur dasar justru perlahan lapuk tanpa perhatian.

Samaila Menyebut Dermaga Soknar sebagai Urat Nadi Nelayan

Kepala Desa Golo Mori, Samaila, menyebut dermaga Soknar sebagai “urat nadi” masyarakat nelayan.

Menurutnya, keberadaan dermaga sangat penting karena arus laut di wilayah Soknar cukup deras. Perahu nelayan tidak bisa bersandar sembarangan di garis pantai.

“Kalau dermaga ini bagus, aktivitas bongkar ikan jauh lebih mudah,” jelasnya.

Namun selama empat tahun terakhir, kerusakan dermaga terus dibiarkan tanpa perbaikan berarti.

Pemerintah desa sebenarnya sudah berulang kali mengajukan proposal. Akan tetapi, upaya itu seperti kandas di meja birokrasi.

“Dari Dinas Perikanan disampaikan bahwa itu sudah bukan tanggung jawab mereka, melainkan kewenangan pemerintah provinsi,” tutur Samaila.

Ironi itu terasa semakin tajam karena di sisi lain, Golo Mori kini perlahan menjelma menjadi kawasan wisata premium yang mulai dikenal hingga mancanegara. Perbukitan hijau yang berpadu dengan bentangan laut biru di selatan Labuan Bajo menjadikan kawasan ini kian dilirik sebagai wajah baru pariwisata Manggarai Barat.

Akses jalan menuju Golo Mori pun kini terbentang mulus setelah diresmikan langsung oleh Presiden Republik Indonesia ke-7, Joko Widodo, pada tahun 2023 lalu. Infrastruktur kawasan wisata terus berkembang, membuka ruang bagi investor dan mempercepat arus kunjungan wisatawan ke wilayah tersebut.

Di tengah geliat pembangunan dan pesona wisata yang terus dipromosikan itu, masyarakat nelayan di pesisir Soknar justru masih bergulat dengan persoalan mendasar. Dermaga tua yang dulu menjadi tempat bersandar perahu kini perlahan lapuk, menyisakan harapan panjang yang hingga hari ini belum juga menemukan jawaban.

Keluhan BBM yang Tak Pernah Usai

Persoalan nelayan Soknar ternyata tidak berhenti pada dermaga yang rusak.
Kelangkaan bahan bakar minyak menjadi luka lama yang terus menghantui kehidupan mereka.

Ketua RT 001 Soknar, Abdul Gani, mengatakan harga Solar dan Pertalite sering melambung karena sulit diperoleh.

“BBM ini keluhan permanen masyarakat nelayan. Kadang kita sudah siapkan uang, tapi solarnya tidak ada,” katanya.

Saat stok langka, nelayan terpaksa membeli dengan harga sangat mahal demi tetap bisa melaut.

“Mau harga berapa pun, kalau nelayan sudah butuh sampai Rp300 ribu untuk satu jerigen 20 liter, tetap dibeli,” ujarnya.

Situasi semakin berat ketika musim angin Tenggara datang. Ombak besar membuat sebagian nelayan memilih tidak melaut. Pendapatan menurun drastis, sementara kebutuhan rumah tangga terus berjalan.

Sebagian warga bahkan harus mencari pekerjaan lain demi bertahan hidup.

Harapan Baru dari Kampung Lenteng

Namun di tengah segala keterbatasan itu, harapan ternyata belum benar-benar padam.

Sekitar setengah kilometer dari Soknar, di Kampung Lenteng, secercah optimisme mulai tumbuh. Kampung kecil yang dihuni sekitar 35 kepala keluarga itu tengah diwacanakan menjadi lokasi pembangunan Kampung Nelayan Modern Merah Putih.

“Orang kementerian sudah datang survei dan saya langsung berdialog dengan mereka,” ungkap Kades Samaila.

Jika rencana itu terealisasi, pemerintah akan membangun berbagai fasilitas penunjang nelayan, termasuk dermaga baru sepanjang sekitar 250 meter yang membelah kawasan mangrove yang tenang dan minim gelombang.
Harapan itu terasa penting karena Lenteng bukan sekadar kampung biasa.

Di sana berdiri pasar tradisional tua yang diyakini sebagai pasar barter tertua di pesisir selatan Manggarai Barat.

“Lenteng itu, dari zaman kami belum lahir saja pasarnya sudah ada,” kenang Samaila.

Tradisi barter di pasar itu masih bertahan hingga hari ini. Hasil pertanian warga ditukar dengan ikan hasil tangkapan laut. Sebagian transaksi memang mulai menggunakan uang, tetapi semangat pertukaran tradisional tetap hidup di tengah masyarakat.

Pasar Lenteng hanya berlangsung singkat setiap Sabtu pagi. Namun denyutnya tak pernah benar-benar hilang.

Warga dari pulau-pulau sekitar datang membawa hasil tangkapan laut yang masih segar. Sementara warga desa dari wilayah pegunungan membawa pisang, jagung, ubi, beras, hingga aneka sayur-mayur untuk dipertukarkan di pasar tradisional tersebut.

Sebuah tradisi lama yang terus bertahan di tengah derasnya arus modernisasi kawasan wisata Golo Mori.

Dermaga yang menjadi Simbol Harapan Nelayan

Dan sore itu, ketika matahari perlahan tenggelam di balik bukit-bukit Golo Mori, dermaga tua peninggalan era Fidelis Pranda masih berdiri sunyi di ujung pantai.

Lapuk. Keropos. Nyaris dilupakan. Tetapi di sekelilingnya, kehidupan para nelayan tetap berjalan.

Suasana senja di pesisir Kampung Soknar, Desa Golo Mori, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Selasa sore, 26 Mei 2026. Foto: Rino/GBRNews.id

Dengan tangan-tangan yang terus bekerja. Dengan laut yang tetap memberi rezeki. Dengan harapan yang belum benar-benar mati.

Sebab bagi masyarakat Soknar, dermaga itu bukan sekadar bangunan kayu tua.

Ia adalah simbol tentang rumah, penghidupan, dan harapan agar suatu hari nanti, perahu-perahu mereka bisa kembali pulang dan bersandar dengan aman di kampung sendiri. **

Penulis : Rino

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan
PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace
PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0
Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol
PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick
PSSI Cup II Manggarai Barat Butuh Rp375 Juta, Panitia Baru Kantongi 35 Persen
Berikut Jadwal Resmi Babak Penyisihan Grup PSSI Cup II Manggarai Barat 2026
Bastian Bawa Uma Lantar Menang di Laga Pembuka PSSI Cup II Manggarai Barat
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:00 WITA

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:47 WITA

PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:01 WITA

PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:55 WITA

Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:41 WITA

PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick

Berita Terbaru