Buntut Upah Tak Dibayar, Warga Geruduk Mawatu Resort Labuan Bajo

- Redaksi

Kamis, 12 Februari 2026 - 21:22 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Labuan Bajo, GBRNews.id – Kemarahan yang lama dipendam akhirnya meledak. Puluhan warga lokal mendatangi dan mengepung gerbang utama Kawasan Mawatu Resort, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Kamis (12/2/2026) sekitar pukul 16.00 WITA.

Di tengah megahnya pembangunan kawasan wisata premium itu, para pekerja justru mengaku belum menerima hak mereka selama hampir delapan bulan. Upah kerja dan pembayaran sewa alat berat tak kunjung dilunasi, membuat sejumlah keluarga tercekik utang.

Aksi yang dikoordinir Lorens Logam berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat Polres Manggarai Barat dan keamanan internal perusahaan. Dari atas mobil komando, Lorens menyuarakan kekecewaan yang disebutnya sebagai bentuk krisis etika dalam praktik investasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Persoalan sore hari ini bukan hanya soal moral, tetapi ada krisis etika dan hati nurani dari para investor terhadap masyarakat lokal,” tegasnya di depan portal Mawatu.

Aksi yang dikoordinir Lorens Logam berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat Polres Manggarai Barat dan keamanan internal perusahaan, Kamis (12/2/2026) sore. Foto Rino/GBRNews

Ia menilai warga yang dilibatkan dalam pembangunan proyek strategis pariwisata Labuan Bajo justru menjadi korban.

“Masyarakat lokal diperlakukan seperti budak, diperas tenaganya, lalu diminta kerja rodi. Ini bentuk pembegalan terhadap hak rakyat,” ujarnya lantang.

Lorens juga menyoroti arah investasi di Labuan Bajo yang dinilai belum sepenuhnya berpihak pada masyarakat kecil di tengah masifnya pembangunan destinasi super prioritas tersebut.

Didesak massa, manajemen Mawatu di bawah naungan Vasanta Group akhirnya menemui para demonstran. Perwakilan manajemen, Alfred, menyampaikan bahwa pihaknya telah menyelesaikan kewajiban pembayaran kepada kontraktor.

“Kami sebagai pihak manajemen Mawatu menyayangkan hal ini bisa terjadi. Karena secara prosedur, secara kontrak kerja antara kami dengan Mitra Konstruksi sudah selesai. Dan kami kewajibannya sebagai pengembang sudah melakukannya secara sempurna, 100% sudah kami bayarkan,” kata Alfred di hadapan massa.

Menurutnya, persoalan muncul karena kontraktor tidak menjalankan kewajiban terhadap pekerja dan vendor.

“Kami melihat ada sistem yang tidak profesional dari pihak kontraktor yang tidak melakukan kewajiban sebagaimana mestinya. Namun sebagai bentuk tanggung jawab moral terhadap warga lokal yang sudah berkeringat membangun Mawatu, kami akan ikut mengawal penyelesaian ini,” katanya.

Ia menjelaskan, PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi selaku kontraktor telah meninggalkan area proyek sejak empat bulan lalu. Meski demikian, manajemen Mawatu berjanji akan berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan vendor terkait.

“Kami berkomitmen untuk berkoordinasi dengan PT Mitra Konstruksi (PT Mitralanggeng Prama Konstruksi). Kami beri waktu tiga hari agar mereka menyelesaikan kewajibannya,” tegas Alfred.

Perwakilan manajemen Mawatu Resort, Alfred, saat menemui para demonstran. Foto Rino/GBRNews

Di tengah memanasnya aksi, suara lain juga menguat dari barisan massa. Sergius Try Deddy mengingatkan agar masyarakat kecil tidak dijadikan tameng dalam konflik internal antara pemilik proyek dan kontraktor pelaksana.

Menurutnya, di balik angka-angka kontrak dan polemik pembayaran, ada keluarga yang harus bertahan hidup setiap hari.

“Keluarga pekerja punya tanggung jawab anak dan istri. Mereka sekarang terpaksa berutang sana-sini hanya untuk makan karena gaji tak dibayar,” ungkap Sergius dengan nada getir.

Ia menegaskan, bagi masyarakat, persoalan owner dan kontraktor bukanlah urusan mereka. Yang mereka tahu, mereka bekerja di atas lahan milik Mawatu dan untuk pembangunan Mawatu.

Karena itu, Sergius mendesak manajemen agar tidak lepas tangan dan segera mengambil langkah tegas.

“Jangan biarkan rakyat kecil jadi korban tarik-menarik tanggung jawab. Kami hanya tahu kami kerja untuk Mawatu. Maka Mawatu juga harus proaktif mendesak kontraktor menyelesaikan hak-hak pekerja,” tegasnya.

Sebelumnya, pemilik alat berat Gerhardus Jack Darung juga melakukan aksi protes pada 5 Februari 2026. Ia menuntut pembayaran tunggakan sebesar Rp363.658.400 yang belum dibayar hampir delapan bulan.

Sementara itu, operator lapangan seperti Romelus Mautorin dan Ignasius Odin mengaku gaji mereka macet selama lima bulan. Untuk menyambung hidup, mereka terpaksa meminjam uang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Pihak PT Mitra Langgeng Prama Konstruksi berdalih belum dapat membayar karena belum menerima pelunasan dari owner. Namun hingga berita ini diterbitkan, Direktur PT Mitra belum memberikan tanggapan resmi meski telah dihubungi sejak 5 Februari 2026.

Kasus ini kembali menjadi sorotan di tengah pesatnya pembangunan pariwisata Labuan Bajo, diharapkan tidak mengorbankan hak dan kesejahteraan masyarakat lokal. **

Penulis : Rino

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Krisna FC Tundukkan PS Menjaga 2-0, Crespo Hale Motor Serangan
Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan
PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace
PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0
Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol
PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick
PSSI Cup II Manggarai Barat Butuh Rp375 Juta, Panitia Baru Kantongi 35 Persen
Berikut Jadwal Resmi Babak Penyisihan Grup PSSI Cup II Manggarai Barat 2026
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 11 Agustus 2026 - 21:15 WITA

Krisna FC Tundukkan PS Menjaga 2-0, Crespo Hale Motor Serangan

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:00 WITA

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:47 WITA

PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:01 WITA

PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:55 WITA

Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol

Berita Terbaru