LABUAN BAJO, GBRNews.id – Setelah menjadi sorotan dan memicu berbagai pertanyaan di tengah masyarakat, Polres Manggarai Barat akhirnya merilis kronologi resmi kecelakaan lalu lintas (lakalantas) maut yang terjadi di Kampung Merombok, Desa Golo Bilas, Kecamatan Komodo.
Insiden tragis yang melibatkan satu unit dump truck dan sepeda motor itu menewaskan seorang petani berinisial M (42), warga Kampung Merombok. Korban meninggal dunia usai mengalami tabrakan di kawasan SPBU Merombok pada Kamis (7/5/2026) sekitar pukul 21.00 Wita.
Kasat Lantas Polres Manggarai Barat, I Made Supartha Purnama, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan korban sempat dilarikan ke RSUD Komodo, namun nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Peristiwa ini merenggut nyawa M, seorang petani asal Merombok. Korban mengembuskan napas terakhirnya sesaat setelah tiba di RSUD Komodo,” ujar AKP Parta dalam keterangan resminya, Minggu (17/5/2026).
Kronologi Lakalantas
Berdasarkan hasil penyelidikan awal dan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), kecelakaan bermula saat dump truck bernomor polisi L 8353 UZ yang dikemudikan AM (30) bergerak dari arah Kaper menuju Nggorang.
Di saat bersamaan, dari arah berlawanan muncul sepeda motor tanpa Tanda Nomor Kendaraan Bermotor (TNKB) yang dikendarai korban.
Polisi menduga korban masuk ke jalur lawan saat melintas di lokasi kejadian. Situasi diperparah karena sepeda motor yang dikendarai korban disebut tidak menggunakan lampu penerangan dan korban juga tidak mengenakan helm.
“Kecelakaan ini dipicu oleh pengendara sepeda motor yang masuk ke jalur lawan. Sayangnya, kendaraan tersebut dalam kondisi gelap tanpa lampu penerangan, dan pengendara tidak menggunakan helm pelindung,” jelas AKP Parta.
Meski kondisi jalan disebut lurus dan cuaca dalam keadaan cerah, minimnya penerangan kendaraan di malam hari dinilai menjadi faktor yang sangat fatal.
Korban Sempat Dievakuasi
Warga bersama petugas kepolisian disebut sempat berupaya menyelamatkan korban dengan membawa korban ke rumah sakit.
“Korban segera dilarikan ke RSUD Komodo untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, karena luka yang dialami cukup serius, Saudara M dinyatakan meninggal dunia setibanya di rumah sakit,” tambahnya.
Saat ini, Satlantas Polres Manggarai Barat telah mengamankan barang bukti berupa dump truck dan sepeda motor yang terlibat dalam kecelakaan tersebut. Polisi juga masih memeriksa sejumlah saksi termasuk sopir dump truck guna mendalami detail kejadian.
“Sejumlah barang bukti telah kami amankan di Mako Polres Manggarai Barat. Saat ini, kami terus mendalami kasus ini dengan memeriksa sejumlah saksi hingga pengemudi dump truck,” ungkap perwira polisi itu.
AKP Parta juga mengingatkan masyarakat agar lebih memperhatikan keselamatan saat berkendara, terutama pada malam hari.
“Kami meminta seluruh warga agar selalu memastikan kelaikan kendaraan, terutama lampu utama dan penggunaan helm, demi keselamatan bersama saat berkendara di malam hari,” pungkasnya.
Lakalantas Pertama Belum Dijelaskan
Sebelumnya, Kampung Merombok lebih dulu diguncang lakalantas maut pada 26 April 2026 di dekat pertigaan masuk kampung tersebut. Korban berinisial UU diketahui merupakan tokoh masyarakat sekaligus Tua Golo Merombok.
Kecelakaan itu terjadi hanya beberapa meter dari rumah korban dan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga maupun warga sekitar.
Namun hingga kini, Satlantas Polres Manggarai Barat belum merilis penjelasan resmi terkait kronologi maupun perkembangan penanganan kasus lakalantas pertama tersebut.
Kondisi itu memunculkan berbagai pertanyaan di tengah masyarakat. Warga menilai, kasus kecelakaan yang menyebabkan hilangnya nyawa manusia semestinya disampaikan secara terbuka kepada publik agar tidak menimbulkan spekulasi.
“Korban meninggal dunia, tapi sampai sekarang belum ada penjelasan resmi terkait kejadian pertama. Kami masyarakat tentu bertanya-tanya bagaimana sebenarnya peristiwa itu dan sejauh mana penanganannya,” ungkap salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya kepada GBRNews.id, Rabu (13/5/2026).
Sedihnya, kedua korban diketahui tinggal di lingkungan yang sama dengan jarak rumah diperkirakan hanya sekitar 50 meter. Situasi tersebut membuat suasana duka terasa begitu dekat bagi warga Kampung Merombok.
“Duka dari peristiwa pertama belum benar-benar hilang, kami kembali menerima kabar duka yang kedua. Kampung ini benar-benar diselimuti kesedihan,” lanjut warga tersebut. **
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










