LABUAN BAJO, GBRNews.id – Ketegangan memuncak di pinggir lapangan Stadion Marilonga, Ende, saat laga pamungkas penyisihan Grup F Piala Gubernur Liga 4 ETMC XXXIV 2025 antara Persamba Manggarai Barat dan Bintang Timur Atambua (BTA), Jumat (21/11) malam. Pertandingan yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube TIWU TELU MEDIA itu berubah panas setelah terjadi kericuhan minor akibat protes keras dari kubu Persamba terhadap keputusan wasit utama, Dony P. Goa.
Sejak awal laga, tensi sudah terasa tinggi. Situasi mulai memanas ketika Manager Persamba, Yuvens Harapan Arjon atau akrab disapa Upeng, meluapkan kemarahannya terkait serangkaian keputusan wasit yang dinilai kontroversial dan merugikan timnya. Dari bangku cadangan, protes keras dilayangkan kepada perangkat pertandingan, namun tidak digubris oleh wasit.
Insiden memuncak pada menit 09:50 babak pertama. Dari area bench Persamba, Upeng melakukan protes keras terhadap keputusan wasit yang dianggap tidak objektif. Adu mulut tak terhindarkan. Wasit Dony P. Goa kemudian mengeluarkan kartu kuning kepada sang manajer.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun protes berlanjut. Situasi makin panas hingga terjadi aksi dorong antara beberapa official dan panitia pertandingan. Aparat kepolisian pun turun tangan menghalau keributan. Dalam kondisi memanas itu, wasit kembali mengambil keputusan tegas: kartu merah untuk Manager Upeng.
Pertandingan sempat molor hampir satu menit akibat insiden tersebut. Setelah menerima kartu merah, Upeng meninggalkan area teknis dan duduk di tribun penonton sambil tetap mengawasi jalannya laga.
Usai pertandingan, Upeng memberikan klarifikasi terkait insiden yang membuatnya harus terusir dari bench Persamba.
“Keputusan kartu merah memang karena protes berlebihan, tapi ada alasannya. Di awal babak pertama, pemain BTA menyiku pemain kami sampai kena ulu hati. Wasit beri pelanggaran tapi tanpa kartu. Tidak lama, pemain yang sama menyiku lagi pemain kami sampai harus dapat pertolongan medis dan pakai oksigen, tetap tidak diberi kartu. Itu yang membuat saya tidak terima,” jelas Upeng, saat dihubungi dari Labuan Bajo, Minggu, 23 November 2025.
Upeng menegaskan bahwa ia memprotes ke wasit keempat karena menilai keamanan dan keselamatan pemainnya tidak dilindungi oleh perangkat pertandingan.
“Kalau ada apa-apa dengan pemain saya bagaimana? Saya jaga marwah Manggarai Barat. Saya dapat kartu merah pun tidak masalah daripada anak-anak saya di lapangan tidak dapat keadilan,” tegasnya.
Upeng berharap kejadian seperti ini tidak terulang, terutama saat memasuki fase gugur ETMC XXXIV Ende 2025.
“Saya minta wasit dievaluasi. Jangan ada tim yang dirugikan lagi di 16 besar. Dan kalau bisa, masuk 8 besar pakai wasit dari luar, bahkan lebih bagus lagi kalau wasit Liga 1,” harapnya.

Memasuki babak kedua, permainan semakin keras. Persamba kembali memimpin lewat sepakan Frans (7) pada menit ke-71. Kemenangan Persamba kemudian dikunci oleh gol kedua Angga pada menit 83:09, memastikan skor akhir 3-1 untuk Laskar Komodo.
Dengan hasil ini, Persamba menyapu bersih tiga laga Grup F dan lolos ke 16 besar dengan rekor sempurna. Persamba kini menjadi salah satu tim paling diperhitungkan dalam perjalanan menuju 16 besar ETMC XXXIV Ende 2025.
Pertandingan ini sekaligus menambah daftar drama panas di Grup F yang sejak awal dikenal sarat tensi tinggi. Insiden kartu merah dan protes keras menjadi catatan penting bagi panitia untuk memperkuat kualitas kepemimpinan wasit pada fase-fase berikutnya.**
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










