Kupang, GBRNews.id –Reses pertama Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL), pasca pelantikan sebagai anggota DPR RI periode 2024–2029, berubah menjadi panggung politik penuh tensi dan peringatan keras. Bertempat di Desa Camplong 2, Kecamatan Fatuleu, Kabupaten Kupang, Senin (9/6/2025), VBL menyampaikan ultimatum yang mengejutkan banyak pihak.
Dihadapan ribuan warga dan tokoh politik lokal, termasuk Bupati Kupang Yosef Lede dan anggota DPRD Kabupaten Kupang dari Fraksi NasDem, Laiskodat menyatakan dukungan total terhadap kepemimpinan Bupati Lede.
Namun lebih dari sekadar dukungan, ia juga melontarkan peringatan keras terhadap kader NasDem yang tidak sejalan dengan kebijakan kepala daerah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ada yang tidak dukung Pak Bupati karena alasan politik, saya berhentikan,” tegas VBL, seperti dikutip dari Kupang-media.net.
Pernyataan tersebut langsung menjadi sorotan publik, mencerminkan gaya kepemimpinan VBL yang tegas, bahkan cenderung konfrontatif. Ia menegaskan, NasDem akan berdiri sebagai mitra strategis pemerintah daerah, namun dengan syarat: programnya harus berpihak pada rakyat.
“Kalau korupsi, kami lawan. Tapi kalau programnya pro rakyat, kami dukung penuh. Karakter Partai NasDem itu jujur,” ujar mantan Gubernur NTT itu.
Pernyataan tersebut memperkuat posisi politik NasDem di Kupang sebagai kekuatan politik yang aktif, bukan sekadar pendukung pasif. NasDem siap “pasang badan” untuk memastikan agenda pemerintah daerah berjalan.
Namun, VBL tak hanya bicara soal masa depan. Ia juga menyinggung kegagalan masa lalu, terutama soal program Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang dulu diinisiasinya saat menjadi Gubernur NTT.
“Kabupaten Kupang selalu buat saya makan hati. TJPS tidak jalan, tidak tanam padahal saya sudah minta tanam. Saya tidak mau Bupati yang sekarang jadi seperti yang lalu,” tegas Viktor Laiskodat, anak buah Surya Paloh.
Sindiran itu mengarah pada Bupati sebelumnya yang dinilai gagal menjalankan program strategis provinsi. Dalam konteks ini, ucapan VBL sekaligus menjadi peringatan keras bagi Yosef Lede agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Meski suasana reses diwarnai antusiasme massa dan tepuk tangan pendukung, pernyataan VBL juga memunculkan kekhawatiran. Beberapa kalangan menilai pendekatan semacam ini bisa mengancam independensi DPRD, serta mempersempit ruang kritik di tingkat lokal.
Langkah politik Viktor Laiskodat kini menjadi sorotan. Apakah ini wujud nyata konsolidasi partai demi pembangunan? Ataukah awal dari penguatan kontrol elite pusat terhadap kader-kader daerah? (*)
Penulis : Sarifudin
Editor : Redaksi










