Labuan Bajo, GBRNews.id –Kepala Desa Golo Mbu, Kecamatan Sano Nggoang, Kabupaten Manggarai Barat, Martinus Taruna, menyatakan kesiapannya menyerahkan mobil milik BUMDes Wae Kising kepada pengurus baru. Langkah itu diambil menyusul arahan dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD).
“Rencananya akan diserahkan kepada pengurus BUMDes atas arahan Dinas. Diusahakan minggu ini,” kata Kades yang akrab disapa Tinus kepada GBRNews.id, Minggu sore (22/2/2026).
Sebelum penyerahan dilakukan, Tinus memastikan akan berkoordinasi dengan pengurus BUMDes lama. Hal itu dimaksudkan agar status, riwayat penggunaan, serta asas manfaat dan peruntukan aset tersebut benar-benar jelas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Penegasan itu disampaikan Tinus setelah sorotan warga terhadap keberadaan mobil BUMDes yang dinilai tak memberi manfaat nyata bagi masyarakat Desa Golo Mbu.
Aset Lama, BUMDes Sempat Mati Suri
Diberitakan sebelumnya, Tinus menegaskan, pengadaan mobil tersebut bukan terjadi pada masa kepemimpinannya. Menurutnya, kendaraan itu merupakan aset lama yang masuk pada periode pemerintahan dan pengurus BUMDes sebelumnya.
“Mobil itu pengadaannya di periode sebelumnya. Saat saya mulai menjabat, BUMDes sudah dalam kondisi mati suri, pengurus tidak aktif dan usahanya kolaps. Mobilnya ikut terlantar,” jelasnya.
Di awal masa jabatan, ia mengaku sempat berinisiatif memanfaatkan kendaraan tersebut agar tidak terbengkalai. Selama kurang lebih satu tahun, mobil digunakan untuk menunjang kebutuhan masyarakat dan operasional desa.
Namun setelah dilakukan evaluasi, biaya operasional dinilai cukup tinggi. Selain itu, tipe kendaraan dianggap tidak sesuai dengan kondisi geografis desa dan tidak layak dikembangkan sebagai unit usaha produktif.
“Baik untuk kepentingan Pemdes maupun masyarakat, biaya operasionalnya tinggi. Tipe mobilnya juga tidak cocok untuk usaha. Karena BUMDes tidak punya kantor, saya simpan di rumah pribadi demi keamanan,” ujarnya.
Fokus ke Ketahanan Pangan
Saat ini, BUMDes Wae Kising disebut telah kembali diaktifkan dengan fokus pada program ketahanan pangan. Aktivitas usaha yang berjalan belum berkaitan dengan pemanfaatan mobil tersebut.
“Saat SK pengurus baru dikeluarkan, saya sudah sampaikan ada aset peninggalan pengurus lama. Kalau mau dikelola silakan, tapi sampai sekarang belum ada yang sanggup mengelolanya,” kata Tinus.
Ia juga mengungkapkan, pengawas BUMDes periode sebelumnya sempat melakukan evaluasi dan menemukan adanya kerugian yang diakui pengurus lama. Dalam perjalanannya, unit usaha tidak berjalan sebagaimana direncanakan.
Bantah Digunakan untuk Kepentingan Pribadi
Menanggapi dugaan warga bahwa mobil digunakan untuk kepentingan pribadi, Tinus membantah tegas.
“Mobil ini bukan milik kepala desa, tapi aset BUMDes. Saya juga tidak boleh mengelolanya sendiri. Saya pakai bukan untuk usaha pribadi, tapi untuk kebutuhan masyarakat. Warga juga tidak pernah dibatasi untuk meminjam,” tegasnya.
Ia menilai sorotan warga sebagai kritik yang wajar dan membangun. Bahkan sebelumnya, ia sempat berkomunikasi dengan pihak kecamatan untuk mengembalikan mobil tersebut karena tidak dimanfaatkan. Namun disarankan agar persoalan dikonsultasikan langsung ke DPMD.
Sebelumnya, sejumlah warga Desa Golo Mbu menyoroti pengadaan mobil BUMDes yang dinilai tidak memberi dampak signifikan bagi perekonomian desa. Kendaraan itu disebut jarang digunakan untuk usaha produktif dan lebih sering terparkir tanpa kejelasan fungsi.
“Mobil milik BUMDes di desa kami ini tidak jelas arah penggunaannya. Kami tidak melihat manfaatnya bagi warga kecil. Sejak ada, tidak menyentuh kebutuhan dasar atau pemberdayaan ekonomi yang hitungannya jelas,” ujar salah satu warga.
Kondisi mobil yang dikabarkan rusak dan lama terparkir di rumah kepala desa memicu kekecewaan. Warga mendesak pemerintah desa dan pengelola BUMDes membuka secara transparan skema bisnis, pola pemanfaatan aset, serta pertanggungjawaban penggunaannya.
Kini, dengan rencana penyerahan ke pengurus baru, publik menanti langkah konkret agar aset desa tersebut benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan tidak lagi menjadi polemik. **
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










