Labuan Bajo, GBRNews.id –Manggarai Barat tengah dihebohkan oleh gelombang dukungan luar biasa yang datang dari ratusan Tenaga Kontrak Daerah (TKD) yang sebelumnya dirumahkan oleh Bupati Edistasius Endi.
Tidak hanya sekadar pernyataan politik, dukungan ini mencerminkan perlawanan tegas terhadap kebijakan yang dianggap tidak manusiawi dan menghancurkan kesejahteraan banyak orang.
Mereka kini menaruh harapan besar pada pasangan calon nomor urut 1, Christo Mario Y. Pranda dan Richardus Tata Sontani (Mario-Richard), yang dianggap sebagai simbol perubahan dan harapan baru di Pilkada Mabar 27 November 2024.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Gerakan Perlawanan: Dipecat dan Dirumahkan, TKD Bersatu
Kebijakan mengejutkan Bupati Edi untuk merumahkan lebih dari 600 dari 2.339 TKD telah menyulut api kemarahan dan kekecewaan mendalam.
TKD yang sebelumnya berperan sebagai pilar pelayanan publik, kini kehilangan pekerjaan mereka akibat kebijakan yang dirasa sepihak. Bagi mereka, keputusan ini tidak hanya memotong penghasilan, tetapi juga merusak martabat mereka sebagai pekerja dan manusia.
Paulus Ganor, koordinator dari gerakan TKD yang dirumahkan, dengan tegas menyuarakan kegelisahan dan ketidakadilan yang mereka rasakan.
“Kebijakan ini tidak hanya menghancurkan kehidupan kami, tetapi juga mencederai nilai-nilai kemanusiaan. Kami dipecat tanpa alasan yang jelas, sementara sebagian lainnya tetap bekerja dan bahkan ada tenaga kontrak baru yang masuk. Ini adalah tindakan yang melukai hati kami,” kata Paulus kepada Gbrnews.id, Rabu (25/9) siang.
Gaji Dipotong, Harapan Hancur
Memilukan, menurut Paulus, bukan hanya pemecatan yang sepihak, tetapi juga pemotongan gaji yang drastis.
“Gaji kami yang tadinya Rp 1.950.000 dipotong hampir setengahnya menjadi Rp 900.000. Tidak ada penjelasan, tidak ada pembelaan. Kami merasa diperlakukan seperti bukan manusia,” ungkapnya.
Paulus juga mengecam ketidakadilan dalam penerapan kebijakan tersebut. Menurutnya, sebagian TKD diberhentikan, sementara yang lain tetap dipekerjakan, bahkan ada tenaga kontrak baru yang masuk.
“Jika memang mengikuti aturan, mengapa hanya sebagian dari kami yang dipecat? Ada kesan pilih kasih dalam kebijakan ini, dan itu sangat melukai hati kami”, tambahnya.
Manggarai Barat di Persimpangan: Pembangunan Melaju, Rakyat Terkorbankan
Manggarai Barat, salah satu kabupaten dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar di Nusa Tenggara Timur, seharusnya mampu menopang biaya tenaga kontrak. Namun, kebijakan Bupati Edi justru membuat TKD menjadi korban dalam proses pembangunan yang terus melaju.
“Saat daerah ini semakin berkembang pesat, mengapa kami justru yang dikorbankan? Kebijakan ini sama sekali tidak masuk akal dan hanya memperburuk kehidupan kami,” ujar Paulus.
Salah satu korban lainnya, Robertus B. Adan, yang akrab disapa Robi, juga menyuarakan kekecewaan yang mendalam. Dia merasa sangat kecewa dengan kepemimpinan Edi-Weng yang dinilai tidak manusiawi.
“Kebijakan merumahkan sebagian TKD tanpa dasar adalah hal yang sangat tidak masuk akal. Kami diperlakukan seolah bukan manusia,” ungkap Robi.
Robi juga mempertanyakan ke mana uang hasil pemotongan gaji para tenaga kontrak itu dialokasikan.
“Jika benar keuangan daerah sedang krisis, lebih baik semua TKD dihapuskan. Tapi kenyataannya, ada yang dipecat, ada yang tetap dipekerjakan. Ini sangat tidak adil”, tegasnya.
Mario-Richard, Simbol Harapan Baru
Kini, dukungan penuh terhadap pasangan Mario-Richard menjadi harapan baru bagi para TKD yang merasa terpinggirkan. Bagi mereka, pasangan ini adalah simbol perubahan dan harapan baru yang diharapkan mampu membawa solusi nyata, bukan hanya janji kosong.
“Kami, 600 TKD, mendukung Mario-Richard bukan hanya karena rasa kecewa terhadap kebijakan Edi-Weng, tetapi karena kami percaya bahwa mereka akan membawa perubahan yang sesungguhnya,” tegas Paulus. ***
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










