Labuan Bajo, GBRNews.id – Sebuah kapal open deck kini beroperasi mengangkut wisatawan di perairan Labuan Bajo. Namun di balik kemegahannya, tersimpan konflik panas antara penjual dan pembeli. Pasalnya, sisa pembayaran kapal senilai Rp 30 juta tak kunjung dilunasi meski sudah hampir setahun berlalu.
Kaharudin Rang (48), warga Desa Nanga Kantor Barat, Kecamatan Macang Pacar, Manggarai Barat, mengaku kecewa dengan sikap pembeli yang disebutnya tidak punya itikad baik.
Ia menyebut, awalnya kapal tersebut dibuat untuk kepentingan pribadi. Namun, dalam proses pengerjaan, datang seorang pria bernama Alyas (55) menawarkan untuk membeli kapal tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
“Awalnya saya bangun untuk keperluan pribadi. Tapi waktu itu Alyas datang ke Nanga Kantor, bawa istri dan anaknya, lalu tawarkan untuk beli. Dia juga kenalkan dua bule dari PT Inside Komodo Trip,” ujar Kaharudin kepada Gbrnews.id, Senin (30/6/2025) sore.
Kapal dengan ukuran panjang 20 meter dan lebar 3,15 meter itu saat ditawarkan masih dalam progres 50 persen. Namun atas permintaan Alyas, kapal diselesaikan hingga rampung.
Kesepakatan jual beli kapal dituangkan dalam perjanjian tertulis bermaterai Rp 10 ribu pada 19 Agustus 2024. Saat itu, Alyas yang diketahui berasal dari Desa Komodo membayar Rp 180 juta dari total harga kapal Rp 210 juta. Sisanya Rp 30 juta dijanjikan akan dilunasi dua bulan kemudian, tepatnya 10 Oktober 2024.
Namun janji tinggal janji. Hingga akhir Juni 2025, sisa pembayaran belum juga dibayarkan.
“Saya terus hubungi sejak Oktober, tapi tidak ada kepastian. Bahkan beberapa kali saya datangi ke kapal di Labuan Bajo, tetap tidak ada kejelasan,” kesal Kaharudin.
Ia mengatakan, pada pertemuan terakhir yang berlangsung Senin sore di Kampung Ujung, Kelurahan Labuan Bajo, Alyas mengakui masih ada tunggakan. Tapi lagi-lagi, tanpa kepastian waktu pelunasan.
Merasa kesabaran habis, Kaharudin memberikan ultimatum keras. Jika hingga besok tunggakan tidak diselesaikan, ia akan melaporkan kasus ini ke pihak kepolisian.
“Saya sudah terlalu sabar. Saya kerja keras siapkan kapal sesuai permintaan mereka. Tapi hak saya tidak dipenuhi. Kalau sampai besok tidak dibayar, saya akan tempuh jalur hukum,” tegasnya.
Meski belum lunas, kapal tersebut diketahui telah beroperasi membawa tamu wisatawan di bawah naungan PT Inside Komodo Trip. Fakta ini menambah kekecewaan Kaharudin yang merasa dipermainkan.
“Kapal itu beroperasi normal di perairan Labuan Bajo mengangkut tamu wisatawan di bawah bendera PT Inside Komodo Trip,” pungkas Kaharudin. (*)
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










