Kepala Desa hingga Petugas Retribusi Diperiksa Polisi Usai Dua Turis Austria Tewas di Cunca Wulang

- Redaksi

Senin, 25 Mei 2026 - 16:49 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Proses evakuasi kedua korban oleh Tim Gabungan. Dok. Humas Polres Mabar

Proses evakuasi kedua korban oleh Tim Gabungan. Dok. Humas Polres Mabar

LABUAN BAJO, GBRNews.id Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat bergerak cepat mendalami kasus kecelakaan fatal yang menewaskan dua warga negara asing (WNA) asal Austria di destinasi wisata Air Terjun Cunca Wulang, Desa Cunca Wulang, Kecamatan Mbeliling, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Kedua korban tewas seketika setelah terjatuh dari jembatan gantung yang rapuh pada Minggu (24/5/2026).

Aparat kepolisian kini tengah membidik tata kelola keselamatan dan kelaikan infrastruktur di lokasi wisata alam populer tersebut guna mencari unsur kelalaian pidana.

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, S.I.K., menegaskan bahwa jajarannya langsung menggelar penyelidikan menyeluruh sesaat setelah menerima laporan musibah tersebut. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) dan pemeriksaan saksi-saksi kini berjalan secara intensif.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Begitu menerima laporan, personel piket fungsi bersama Tim Inafis Satreskrim Polres Manggarai Barat langsung turun ke lokasi untuk melakukan olah TKP, mengamankan area, memasang garis polisi, serta mengevakuasi korban ke RSUD Komodo guna pemeriksaan visum. Sejajar dengan itu, penyelidikan intensif langsung kami lakukan guna mengungkap penyebab pasti runtuhnya infrastruktur jembatan tersebut,” ujar AKBP Christian Kadang saat dikonfirmasi pada Senin (25/5/2026).

Kronologi Kejadian dan Temuan Lapangan

Kedua korban diidentifikasi sebagai J (54) dan A (56), pasangan suami istri asal Austria yang tengah menikmati masa liburan mereka di kawasan Air Terjun Cunca Wulang.

Berdasarkan hasil olah TKP awal, petaka terjadi saat kedua korban melintasi jembatan gantung setinggi kurang lebih 10 meter. Bagian papan pijakan jembatan tiba-tiba jebol, membuat pasangan suami istri ini terjatuh bebas dan menghantam hamparan batu sungai yang keras di bawahnya. Polisi menemukan lubang menganga sepanjang 1,20 meter pada lantai jembatan yang patah.

Dari hasil investigasi fisik di lapangan, penyidik menemukan potret buram terkait sistem pengamanan di destinasi wisata tersebut. Jaringan pengaman (safety net) di sisi kiri dan kanan jembatan diketahui telah rusak dan hilang hingga 90 persen. Kondisi ini disinyalir luput dari perhatian pihak pengelola.

Tak hanya itu, kayu penyangga (tulang) jembatan ditemukan dalam kondisi lapuk termakan usia, sementara sebagian besar papan pijakan sudah goyang, terangkat, bahkan terlepas dari rangkanya.

“Hasil pemeriksaan sementara mengungkap adanya kondisi jembatan yang sebagian papan sudah goyang dan terangkat. Selain itu, tidak terdapat SOP tertulis terkait pengecekan rutin jembatan maupun sistem keselamatan wisata yang memadai,” jelas Christian.

Sebelum insiden maut terjadi, pemandu lokal yang mendampingi korban sebenarnya sempat memberikan peringatan mengenai kondisi jalur trekking yang licin akibat cuaca. Namun, kondisi jembatan yang memang sudah tidak layak pakai menjadi faktor penentu runtuhnya pijakan korban hingga terjatuh ke dasar sungai.

Menyoroti Aliran Retribusi dan Minimnya Standardisasi

Penyelidikan polisi kini mulai melebar ke arah aspek tata kelola administrasi dan finansial objek wisata. Polisi mengendus adanya ketimpangan antara penarikan retribusi dari wisatawan dengan pemeliharaan fasilitas keselamatan.

Di lokasi kejadian, polisi menemukan bukti adanya pungutan resmi bagi setiap pengunjung. Aliran dana retribusi tersebut diketahui mengalir ke kas Dinas Pariwisata Kabupaten Manggarai Barat dan Pemerintah Desa Cunca Wulang. Ironisnya, fasilitas keselamatan dasar justru terabaikan.

Selain tidak tersedianya rambu peringatan bahaya di titik-titik rawan, pengelola juga tidak menyediakan fasilitas asuransi kecelakaan bagi wisatawan. Layanan kepemanduan pun dinilai tidak profesional.

“Kami menemukan fakta di lapangan bahwa tidak ada pramuwisata (tour guide) resmi dan bersertifikat yang mendampingi para tamu saat melakukan aktivitas trekking. Petugas maupun pemandu lokal di sana juga belum pernah mendapatkan pelatihan keselamatan wisata yang memadai,” tambah Kapolres.

Hingga saat ini, penyidik Satreskrim Polres Manggarai Barat telah memeriksa lima orang saksi kunci secara maraton. Mereka adalah Kepala Desa Cunca Wulang selaku otoritas wilayah setempat, petugas pos retribusi tiket masuk, pramuwisata lokal yang mendampingi korban, sopir mobil sewaan korban, serta anggota Bhabinkamtibmas yang pertama kali mengamankan lokasi pascakejadian.

Bidik Kelalaian Birokrasi dan Libatkan Ahli Konstruksi

Langkah hukum Polres Manggarai Barat dipastikan tidak akan berhenti pada level pekerja lapangan. Penyidik menjadwalkan pemanggilan klarifikasi terhadap sejumlah instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat yang membidangi pengawasan dan pengelolaan Obyek Wisata Alam Cunca Wulang.

“Kami tidak berhenti pada pemeriksaan saksi di lapangan saja. Kami menjadwalkan klarifikasi dari dinas-dinas terkait di Pemkab Manggarai Barat yang bertanggung jawab atas pengelolaan dan pengawasan aspek keselamatan di Cunca Wulang,” tegas Christian.

Untuk memperkuat pembuktian secara ilmiah (scientific crime investigation), kepolisian juga akan menggandeng pakar teknik sipil guna menganalisis kelayakan struktural jembatan penyeberangan tersebut.

“Kami juga berkoordinasi dengan ahli teknik sipil untuk melakukan analisis mendalam terhadap kelaikan fisik serta kekuatan struktural jembatan gantung tersebut. Kami ingin memastikan apakah ada unsur kelalaian atau murni kegagalan struktur akibat faktor alam,” paparnya.

Sejumlah barang bukti dokumen, termasuk buku registrasi kunjungan tamu dan berkas-berkas pengelolaan kawasan wisata, kini telah disita dan diamankan oleh penyidik.

Sementara itu, jenazah kedua korban masih disemayamkan di instalasi pemulasaran jenazah RSUD Komodo, Labuan Bajo. Pihak kepolisian terus membangun koordinasi dengan Kedutaan Besar Austria di Jakarta untuk proses pemulangan jenazah ke negara asal.

Kapolres Mabar menegaskan komitmennya untuk menyelesaikan kasus ini secara transparan guna memberikan kepastian hukum, sekaligus menjadi momentum evaluasi total pariwisata Labuan Bajo yang berstatus destinasi super prioritas.

“Kami akan mendalami seluruh aspek, baik terkait standar keselamatan wisata, tanggung jawab pengelolaan fasilitas, maupun unsur kelalaian yang mungkin terjadi. Semua akan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” pungkas perwira menengah berpangkat melati dua tersebut. **

Penulis : Rino

Editor : Redaksi

Berita Terkait

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan
PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace
PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0
Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol
PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick
PSSI Cup II Manggarai Barat Butuh Rp375 Juta, Panitia Baru Kantongi 35 Persen
Berikut Jadwal Resmi Babak Penyisihan Grup PSSI Cup II Manggarai Barat 2026
Bastian Bawa Uma Lantar Menang di Laga Pembuka PSSI Cup II Manggarai Barat
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 10 Agustus 2026 - 23:00 WITA

Coach Kletus Gabhe Dorong PSSI Mabar Bangun Ekosistem Sepak Bola Berkelanjutan

Senin, 10 Agustus 2026 - 20:47 WITA

PSSI Cup II Mabar: Wae Sambi FC Bantai Sama Nggitan 4-0, Dwikie Jehaman Cetak Brace

Senin, 10 Agustus 2026 - 16:01 WITA

PSSI Cup II Mabar: SMANDU FC Tak Berdaya, PSG Papa Garang Pesta Gol 5-0

Senin, 10 Agustus 2026 - 11:55 WITA

Komodo United Bantai Mata Wae 13-1, Angga Asnandi Cetak 8 Gol

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:41 WITA

PSSI Cup II Mabar: Monster Mbeliling Hajar Gladiator 4-0, Berto Cetak Hattrick

Berita Terbaru