Labuan Bajo, GBRNews.id –Kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) kembali mencoreng citra pemerintahan desa, kali ini melibatkan Venseslaus Jumaidela, Kepala Desa Kombo Tengah, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Ia dituduh menganiaya istrinya, Teresia Fian, hingga babak belur pada Senin (14/1/2025). Insiden yang bermula dari masalah sepele ini menyulut amarah publik dan memicu gelombang komentar di media sosial.
Amarah Publik Meledak di Media Sosial
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pantauan Gbrnews.id, Selasa siang (14/1/2025), media sosial, khususnya grup Facebook seperti MABAR NEWS dan FRPM, menjadi ajang pelampiasan kekecewaan publik terhadap perilaku kepala desa tersebut.
Akun Facebook Wilibrodus Wagu membuka diskusi dengan komentar singkat namun tajam: “Terlalu main kuasa,” tulisnya.
Atok Fernandes ikut menimpali dengan sindiran jenaka, “Kala main slot kali ya, bawaannya kesel,” lengkap dengan emoji tawa.
Di tengah kritik tajam, Mick Banggur menyuarakan dukungannya untuk korban. “Lapor ke polisi saja bos,” tulisnya dengan nada serius.
Namun, tuduhan lain muncul dari Save Rinus yang mengaitkan kasus ini dengan perjudian. “Mungkin pengaruh rungkad dalam perjudian slot, makanya istri dikorbankan,” katanya.
Nada kesal juga datang dari Elkan Mugut. Dalam komentarnya yang menggunakan bahasa lokal Manggarai, ia menulis: “Sombong ee raja,, toe di jadi bupati. am podo kole Wina meseng mareng toko wie.”
Jickhart menambahkan nada geram: “Eta lowo watu ckoen hi papa mese nai Kole ga….🤦toe nuk masa susah agu Wina anak.”
Komentar Jickhart mendapat tanggapan dari Yasmin Jelita, yang mengingatkan bahwa kesuksesan Jumaidela tak lepas dari peran istrinya. “Tidak ingat, kau sukses jadi kades, berkat doa istri juga,” tulisnya.
Adi Nenga, dalam komentarnya, menyerukan tindakan tegas dari Komisi Perlindungan Perempuan. “KOMISI PERLINDUNGAN PEREMPUAN MOHON BERTINDAK..biar Kapok tu Kades bak raja saja, CDmu istri yg cuci, makanmu istri yang sedia’in, rumahmu istri yang beresin, anakmu istri yang suapin, kebunmu istri yang urusin,…Nana e pangkatmu cuma 5 tahun, jaga kualat e.”
Sementara itu, Damian menduga kebiasaan “jajan” di luar sebagai penyebab retaknya hubungan. “Berawal kebiasaan jajan di luar yang rasanya serba enak. Pas balik kandang masakan istri terasa hambar,” sindirnya.
Pemerintah Angkat Bicara
Terpisah, Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat melalui Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD) angkat bicara terkait kasus dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang melibatkan Venseslaus Jumaidela, Kepala Desa Kombo Tengah.
“Prihatin dengan peristiwa ini. Semoga bisa diselesaikan dengan baik,” ujar Kadis Pius Baut kepada Gbrnews.id pada Selasa siang.
Dalam pernyataannya, Pius menekankan pentingnya keteladanan seorang pemimpin, terutama kepala desa yang menjadi figur terdepan di masyarakat.
Ia berharap seluruh kepala desa di Manggarai Barat menjadikan kasus ini sebagai pelajaran berharga.
“Mohon selalu dijaga keteladanan sebagai pemimpin desa,” tegasnya.
Keteladanan, menurut Pius, bukan hanya soal menjalankan tugas administratif, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai moral dalam kehidupan sehari-hari, baik di ruang publik maupun dalam keluarga.
Meski kasus ini ramai diperbincangkan, Pius mengungkapkan bahwa pihaknya belum menerima laporan resmi dari korban atau keluarganya.
“Belum ada pengaduannya,” katanya singkat.
Namun, Kadis Pius Baut memastikan bahwa pihaknya tetap akan memantau perkembangan kasus ini dengan serius.
Diberitakan sebelumnya, Teresia Fian, istri dari Venseslaus Jumaidela, Kades Kombo Tengah, mengaku kekerasan yang dialaminya sudah terjadi berulang kali. Pada insiden terakhir, ia menyebut penganiayaan bermula dari hal sepele.
“Awalnya karena saya masak nasi terlalu banyak (dua mejik) untuk dibawa ke kebun. Dia (suami) memarahi saya dengan mengambil sebilah parang lalu mengejar dan memukul saya di bagian mata sehingga mata saya bengkak dan lebam,” ungkap Teresia seperti dikutip dari Infolabuanbajo.id, Selasa (14/1/2025).
Tak hanya sekali, Teresia mengaku sering menjadi korban penganiayaan suaminya selama bertahun-tahun. Bahkan, ancaman pembunuhan membuatnya takut melapor ke polisi.
Kini, ia memilih mengamankan diri di kampung halamannya untuk mencari perlindungan.
Anak pasangan tersebut, Sindi Cenora Julianti Jumaidela, turut menyaksikan langsung aksi kekerasan sang ayah pada November 2024.
“Kemaren saya pulang libur ke kampung, tepatnya dibulan November 2024. Kejadiannya sore hari,disaat bapa pulang dari kebun. Mereka (Bapa dan mama) bertengkar hanya karena ubi goreng saja. Bapa memaki-maki mama dan hendak memukul mama namun dihalangi saya dan adik,” cerita Sindi pada Senin malam.
Meski melihat kekerasan itu berkali-kali, Sindi berharap konflik keluarga mereka dapat diselesaikan dengan baik.
“Saya berharap agar persoalan ini diselesaikan dengan baik antara bapa,mama dan keluarga. Saya juga tidak mengharapkan Bapa dipenjara, namun saya lebih kepada soal sikap Ayah untuk bisa dirubah ke depannya,” katanya.
Kades Membantah, Dalih yang Berbelit
Dikonfirmasi terpisah, Jumaidela menepis semua tuduhan. Ia mengaku hanya “menegur keras” istrinya.
“Saya tidak pukul dia, pak. Apalagi sampai mengancam dan mengeluarkan sebilah parang itu tidak benar.Terkait luka lebam di matanya itu karena saya mendorong dia dan jatuh terbentur dengan lantai,” klaimnya.
Namun, alibi ini terkesan rapuh. Jumaidela justru balik menyerang, menyebut istrinya memiliki gangguan psikologis.
“Dia sepertinya ada gangguang psikologis, karena selalu bikin yang aneh-aneh di rumah. Makanya saya tegur dia dengan keras.Untuk saya mengancam dia dengan sebilah parang itu tidak benar,” tambah Kades Jumaidela.
Namun, Jumaidela menambahkan bahwa ia siap menghadapi konsekuensi hukum jika pihak keluarga memutuskan melaporkan kejadian ini. **
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










