GBRNews.id –Setelah 12 tahun merantau di Kalimantan Utara, Jamaluddin (60) dan istrinya, Maidah (49), akhirnya ingin pulang kampung untuk merayakan Lebaran bersama keluarga di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Namun, impian itu sirna di Pelabuhan Loktuan, Bontang, Kalimantan Timur.
Mereka sudah membayangkan momen haru saat tiba di rumah, bertemu orang tua, sanak saudara dan merasakan kembali kehangatan kampung halaman.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Namun, semua harapan itu hancur saat mereka menyadari satu kesalahan fatal—jadwal kapal yang mereka tunggu ternyata sudah lewat.
Pasangan ini tiba di pelabuhan Loktuan, pada Senin (24/3/2025), yakin akan menaiki KM Binaiya menuju Labuan Bajo.
Sayangnya, yang mereka temui bukan kapal yang siap berlayar, melainkan kabar pahit: kapal itu sudah pergi sejak 19 Maret. Lebih menyakitkan lagi, jadwal berikutnya baru ada pada 8 April—terlambat untuk merayakan Lebaran di rumah.
“Kurang informasi. Saya tahu ada kapal saja pulang ke Labuan Bajo, ternyata salah tanggal. Kapalnya sudah berangkat tanggal 19 (Maret-red),” ujar Jamaluddin pasrah, Rabu (26/3/2025), seperti dikutip dari TribunKaltim.co.
Perjalanan Panjang, Biaya Besar dan Harapan Kandas
Demi bisa mudik, Jamaluddin dan Maidah rela menempuh perjalanan jauh dari Desa Salang, Kecamatan Suling, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara.
Mereka berangkat sejak 23 Maret menggunakan travel darat, selama satu hari satu malam dan menghabiskan biaya Rp 4 juta, jumlah yang tak kecil bagi pasturi itu.
Selama perjalanan, mereka tak sabar membayangkan momen haru bertemu keluarga setelah bertahun-tahun.
Namun, sesampainya di Pelabuhan Loktuan, kenyataan pahit harus diterima—jadwal kapal tidak sesuai dengan perkiraan mereka.
“Saya korban ke sini. Harapannya Binaiya itu,” kata Jamaluddin.
Kini, mereka dihadapkan pada pilihan yang sama sulitnya. Kembali ke Nunukan bukan pilihan, sementara tiket pesawat ke Labuan Bajo terlalu mahal.
Satu-satunya pilihan adalah menunggu kapal berikutnya, meski itu berarti kehilangan momen Lebaran bersama keluarga yang sudah mereka nantikan bertahun-tahun.

Kisah Jamaluddin dan Maidah hanyalah satu dari banyak cerita perjuangan para perantau yang berusaha kembali ke kampung halaman.
Di balik rencana mudik yang penuh harapan, ada risiko kesalahan, kurangnya informasi dan keterbatasan pilihan yang bisa mengubah segalanya dalam sekejap. (*)
Penulis : Sarifudin
Editor : Redaksi










