Manggarai Timur, GBRNews.id-Di sebuah sudut Dusun Warat, Kelurahan Satar Peot, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Aloysius Narto tampak menunduk di antara rumpun kangkung dan bayam muda. Kedua tangannya cekatan memetik sayuran itu dari kebun seluas satu hektare miliknya. Pria 30-an tahun yang akrab disapa Luis Marto ini baru memulai usahanya pada Maret 2024. Tak butuh waktu lama, kebun kecil itu menjelma sumber penghidupan yang bukan hanya menopang dirinya, tapi juga membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
Latar belakangnya sebagai sarjana peternakan memberi bekal berbeda. Alih-alih sibuk mencari pekerjaan kantoran yang tak kunjung datang, Luis memilih kembali ke tanah. Ilmu yang ia pelajari di kampus ia terapkan: mengolah limbah ternak, terutama kotoran kambing, menjadi kompos. “Saya integrasikan langsung ke pertanian,” ujarnya. Hasilnya adalah sayuran organik yang lebih segar, sehat, sekaligus bernilai tambah di mata pembeli.
Keputusan itu lahir dari keterdesakan. Luis terhimpit oleh pengangguran. “Saya pikir uang itu ada di sekitar. Tinggal bagaimana kita mau berusaha,” katanya. Bagi Luis, peluang itu ada, meski datang dari keadaan kepepet.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Kini setiap 25 hari sekali, ia bisa panen. Kangkung dan bayam organik yang ia jual dihargai tiga ikat Rp10 ribu. Dari sana, Luis meraup jutaan rupiah tiap bulan. Ia memasarkan hasil kebunnya dengan beragam cara: menyetorkan ke lapak-lapak sayur di Kembur dan Pasar Borong, menjajakan door to door, hingga memanfaatkan media sosial. Sesekali warga datang langsung ke kebun untuk membeli.
Ketekunan itu menular. Beberapa warga mulai tertarik belajar menanam dengan cara organik. Mereka ingin tahu bagaimana kotoran kambing bisa disulap menjadi pupuk yang menyuburkan sayuran. Luis membuka diri untuk berbagi pengalaman, karena baginya semakin banyak orang mengadopsi pola bertani sehat, semakin baik pula bagi lingkungan.
Menurut Luis, usahanya ini bukan hanya soal mencari nafkah. Ia ingin memberi contoh kepada anak-anak muda lain di Manggarai Timur bahwa jalan keluar dari pengangguran bisa ditemukan di tanah sendiri. “Saya mau tunjukkan bahwa anak muda juga bisa, tidak harus semua lari ke kota. Dan yang paling penting, sayuran organik ini baik untuk kesehatan,” ujarnya.
Meski begitu, Luis sadar ada batas yang tak bisa ia lewati sendiri. Skala usahanya masih kecil, sementara permintaan pasar terus tumbuh. Ia berharap ada dukungan pemerintah. “Kalau ada support, tentu bisa kembang lebih banyak lagi,” katanya. (*)
Penulis : Nardin Lonnista
Editor : Redaksi










