LABUAN BAJO, GBRNews.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Meteorologi Kelas II El Tari Kupang mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem yang diprediksi akan melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) selama tiga hari ke depan, terhitung sejak tanggal 10 hingga 12 Maret 2026.
Dalam rilis resmi yang ditandatangani Kepala Stasiun Meteorologi, Sti Nenot’ek, S.Si., M.Si, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang. Kondisi ini berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, tanah longsor, hingga pohon tumbang.
Berdasarkan rilis resmi BMKG, pembagian tingkat risiko wilayah di Nusa Tenggara Timur selama tiga hari ke depan terbagi menjadi beberapa kategori.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pada tanggal 10 Maret, seluruh wilayah Kabupaten dan Kota di NTT ditetapkan dalam status Siaga akibat potensi hujan lebat hingga sangat lebat.
Sementara itu, peringatan dini angin kencang juga mencakup hampir seluruh wilayah, mulai dari daratan Manggarai, Flores, hingga Kepulauan Sumba dan Sabu Raijua.
Memasuki tanggal 11 Maret, wilayah yang masuk dalam status Siaga meliputi Flores Timur, Lembata, Alor, Sabu Raijua, Rote Ndao, Kabupaten Kupang, dan Kota Kupang.
Di saat yang sama, status Waspada untuk hujan sedang hingga lebat ditetapkan bagi wilayah Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, Sikka, TTU, TTS, Malaka, dan Belu. Adapun potensi angin kencang diprediksi masih akan melanda sebagian besar wilayah NTT termasuk daratan Sumba.
Pada hari terakhir periode peringatan, yakni 12 Maret, status Siaga diprediksi akan terkonsentrasi di wilayah Kota Kupang, Kabupaten Kupang, TTS, TTU, Malaka, Rote Ndao, Lembata, Alor, serta seluruh wilayah Pulau Sumba (Sumba Timur, Sumba Tengah, Sumba Barat, dan Sumba Barat Daya).
Sementara itu, wilayah Belu berada dalam status Waspada. Peringatan dini angin kencang pada tanggal ini masih tetap berlaku untuk wilayah Timor, daratan Flores, hingga Kepulauan Sumba, sehingga masyarakat diminta untuk tetap waspada terhadap potensi kerusakan infrastruktur ringan.
Forecaster on Duty, Isabela Restu Astuti, S.Tr, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem ini dipicu oleh penguatan Monsun Asia dan aktifnya gelombang atmosfer skala regional seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Kelvin, dan gelombang Low.
Selain itu, terdapat Sistem Tekanan Rendah di wilayah Darwin, Australia bagian Utara, yang memicu terbentuknya daerah pertemuan dan perlambatan angin di wilayah NTT. Kondisi ini didukung oleh kelembapan udara pada lapisan 850 hingga 500 mb yang terpantau cukup tinggi, berkisar antara 70% hingga 90%, sehingga pertumbuhan awan hujan secara vertikal menjadi sangat masif.
Pihak BMKG meminta masyarakat untuk tidak panik namun tetap waspada, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah rawan longsor dan bantaran sungai. Masyarakat juga diminta untuk memantau informasi cuaca terkini melalui kanal resmi BMKG. **
Penulis : Tim Redaksi
Editor : Redaksi










