Labuan Bajo, GBRNews.id –Event Organizer (EO) King Production akhirnya mengungkap penyebab kericuhan yang melibatkan juru bicara (Jubir) pasangan calon (paslon) nomor urut 2, Edi-Weng, pada debat pertama pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat 2024, Rabu (16/10).
Kericuhan tersebut terjadi di tengah berlangsungnya acara yang seharusnya menjadi ajang pertarungan gagasan kedua paslon.
“Itu murni kesalahpahaman. Sebenarnya tidak ada apa-apa. Mungkin salah satu tim dari paslon 02 merasa ada unsur kesengajaan, tapi dari pihak kami tidak ada maksud seperti itu,” ungkap Dani Unbanunaek, perwakilan EO King Production, kepada Gbrnews.id usai acara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Dani menjelaskan bahwa insiden tersebut dipicu oleh kekecewaan tim paslon Edi-Weng terkait kualitas suara mikrofon saat kandidat wakil bupati mereka berbicara.
Menurutnya, tim paslon Edi-Weng merasa suara yang keluar dari mikrofon menurun secara signifikan, namun tim teknis King Production memastikan tidak ada manipulasi suara.
“Tim tersebut menganggap saat paslon 02 berbicara, kualitas suaranya menurun. Padahal, dari pengamatan kami, itu terjadi karena jarak mulut ke mikrofon terlalu jauh. Sebelumnya, saat kandidat calon bupati dari paslon 02 berbicara, mikrofon bekerja dengan baik. Namun, karena jarak yang tidak optimal, suara yang dihasilkan menjadi kecil. Tidak ada unsur kesengajaan seperti yang mereka duga,” beber Dani.
Salah satu anggota crew King Production yang terlibat langsung dalam perselisihan tersebut mengaku kecewa atas tindakan tim Edi-Weng yang dianggap kurang profesional.
“Seharusnya mereka bisa menyampaikan keluhan dengan cara yang lebih baik, bukan dengan main serobot. Kami kecewa karena mereka berperilaku seperti preman,” ujarnya dengan nada kesal.
Kericuhan di Tengah Debat
Kericuhan yang terjadi di Aula DJ Hall, Labuan Bajo, pada Rabu malam (16/10), sontak mengejutkan para hadirin yang sedang mengikuti jalannya debat.

Ketegangan memuncak ketika Juru Bicara paslon Edi-Weng, Servasius Sutantio Ketua, yang akrab disapa Ervas, tiba-tiba mendatangi crew King Production dengan ekspresi marah. Adu mulut pun tak terhindarkan, nyaris berujung pada bentrokan fisik.
Insiden ini terjadi di tengah jeda istirahat setelah sesi pertama debat yang membahas visi dan misi kedua paslon. Kejadian tersebut memancing reaksi cepat dari para pendukung kedua kubu, yang bergegas menuju lokasi perselisihan.
Ketua KPU Manggarai Barat, Ferdiano Sutarto Parman, beserta aparat kepolisian segera turun tangan untuk meredakan situasi yang semakin panas. Setelah sekitar 10 menit ketegangan, Ervas akhirnya diamankan dan dikeluarkan dari ruangan oleh pihak keamanan untuk menormalkan keadaan.
Ketika dimintai keterangan setelah kejadian, Ervas menolak memberikan pernyataan lebih lanjut. “Tidak usah bro,” ujarnya singkat.
Debat yang Memanas
Debat yang dimoderatori oleh Desy Natalia dari RRI ini sebenarnya bertujuan untuk membahas topik strategis, yakni “Peningkatan Kesejahteraan Ekonomi Masyarakat Berbasis Pembangunan Pariwisata Terintegrasi.”
Acara ini menjadi wadah bagi kedua paslon untuk memaparkan rencana mereka dalam mengintegrasikan sektor pariwisata demi kesejahteraan masyarakat Manggarai Barat.
Paslon nomor urut 1, Christo Mario Y Pranda-Richard Tata Sontani, dan paslon nomor urut 2, Edistasius Endi-Yulianus Weng, saling adu gagasan di hadapan panelis yang berasal dari universitas-universitas terkemuka. Di antara para panelis tersebut adalah Bill Nope, SH., LL.M, Andi Irfan, S.H.I., M.H, dan Yonathan Hans Luter Lopo, S.IP., M.A.
Meski debat ini memiliki tujuan mulia, insiden kericuhan tersebut sempat mengganggu jalannya acara dan mencoreng suasana debat. **
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










