Labuan Bajo, GBRNews.id –Sustiana Melci Elda (23) ditemukan meninggal dunia pada Kamis, 3 Oktober 2024 di rumahnya di Dusun Nggilat, Desa Nggilat, Kecamatan Macang Pacar. Kematian mendadak ini mengejutkan warga dan meninggalkan banyak pertanyaan yang hingga kini ditangani pihak kepolisian.
Adrianus Jehadun, ayah kandung korban
melaporkan kejadian ini kepada Kepolisian Resor (Polres) Manggarai Barat pada Jumat pagi, 4 Oktober 2024, yang kemudian membuka penyelidikan dengan Nomor: STTL/GANGGUAN/B/1/X/2024/SPKT Polres Manggarai Barat/Polda Nusa Tenggara Timur.
Laporan TKP Polisi
Berdasarkan laporan resmi yang diterima oleh pihak berwenang, dugaan kasus gangguan penemuan mayat ini terjadi di Jl Dusun Nggilat, RT 001, RW 001, Titik Koordinat -8. 308649,120.2463151, Nggilat, Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur, pada hari Kamis 03 Oktober 2024, sekitar pukul 08.00 WITA, dan melibatkan saksi utama, Eduardus Ungkang, kerap disapa Ardus, merupakan suami dari korban.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pagi itu, Ardus baru saja pulang dari rumah neneknya, Ibu Emi, menuju rumahnya di Dusun Nggilat. Setibanya di rumah, ia dikejutkan oleh pemandangan yang sangat memilukan istrinya ditemukan dalam posisi tergantung dengan leher terjerat kain batik sepanjang sekitar 2 meter, yang diikatkan pada balok kayu rumah mereka yang terbuat dari setengah tembok dan dinding papan kayu.
Ardus, terkejut dan hancur oleh apa yang dilihatnya, langsung menangis dan memeluk tubuh istrinya sambil berteriak meminta pertolongan.
Teriakannya memanggil saksi lainnya, Helarius Hance, tetangga yang tinggal di belakang rumah mereka. Helarius segera bergegas menuju rumah Ardus.
Begitu tiba, ia mendapati pemandangan yang tak kalah mengejutkan, korban tergantung dengan kain batik yang melilit lehernya. Tanpa membuang waktu, Helarius langsung berusaha melepaskan jeratan kain dari leher korban.
Setelah berhasil membuka jeratan tersebut, Ardus menggendong tubuh istrinya dan membaringkannya di lantai, berharap masih ada tanda-tanda kehidupan.

Namun, harapan itu pupus ketika mereka menyadari bahwa sang istri sudah tidak bernyawa. Menyaksikan keadaan tragis ini, Helarius segera pergi melaporkan kejadian tersebut ke Kantor Desa Nggilat.
Kronologi Kejadian Berdasarkan Keterangan Warga
Menurut keterangan warga di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP), insiden tragis yang menimpa Sustiana Melci Elda, sering disapa Elda, terjadi pada pagi hari sekitar pukul 07.30 WITA.
Saat itu, Elda bersama suaminya, Eduardus Ungkang, kerap disapa Ardus, tengah melakukan percakapan telepon dengan ayah Elda, Ardianus Jehadun, yang berada di Watu Langkas, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo.
Dalam percakapan tersebut, pasangan Elda dan Ardus meminta bantuan untuk mencari pinjaman uang dengan bunga untuk kebutuhan keluarga mereka. Namun, masalah muncul ketika bunga pinjaman yang diminta mencapai 10%, yang dianggap terlalu besar oleh Ardus.
Hal ini menyebabkan pertengkaran antara Elda dan Ardus. Bahkan, dalam percakapan tersebut, Ardus terdengar mengancam akan memukul dan membunuh Elda, sesuatu yang disaksikan langsung oleh ayah Elda melalui telepon.
Meski demikian, sang ayah berusaha menenangkan mereka dan menawarkan untuk membantu membayarkan bunga pinjaman tersebut.
Setelah percakapan tersebut berakhir, Elda kembali menghubungi ayahnya. Ia mengabarkan bahwa pinjaman uang tersebut jadi dilakukan dan meminta ayahnya untuk mengantarkan uang itu keesokan harinya, serta membeli obat untuk anaknya.
Namun, setelah komunikasi ini, hubungan telepon terputus. Ayah Elda, Ardi Jehadun, hanya sempat menerima pesan terakhir dari Elda, yang singkat berisi kata “Bapa”. Ketika mencoba menelpon kembali, nomor Elda sudah tidak aktif lagi.
Sekitar pukul 10.00 pagi, Ardi Jehadun menerima kabar mengejutkan yang mengabarkan bahwa putrinya, Elda, telah meninggal dunia di rumah suaminya di Nggilat.
Kronologi Menurut Orang Tua Kandung
Kedatangan Elda di rumah orang tuanya di Watu Langkas, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo pada Minggu, 22 September 2024, sekitar pukul 13.00 WITA, membawa harapan dan permohonan. Ia datang untuk meminta bantuan pinjaman uang serta bibit padi yang ia butuhkan.
Namun, saat itu, ibunya hanya bisa menyampaikan dengan berat hati bahwa mereka tidak memiliki uang yang diminta. Kedua orang tua Elda berjanji akan berusaha meminjam dari tetangga, meski hasilnya belum pasti.
Elda tinggal di rumah orang tuanya selama seminggu. Di sana, ia tak hanya beristirahat, tetapi turut membantu membersihkan rumah dan turun ke sawah untuk membersihkan rumput padi. Waktu itu terasa tenang, penuh dengan aktivitas yang sederhana namun berarti.
Namun, panggilan dari suaminya, Ardus, pada akhir minggu itu memecah keheningan. Ardus meminta Elda segera kembali ke Kampung Nggilat karena ada jadwal keberangkatan motor laut menuju Labuan Bajo pada Minggu, 29 September 2024.
Tanpa menunda, Elda bersama ibu dan saudaranya, Aprianus Tri Putra, mengantarkannya ke pelabuhan Labuan Bajo. Setibanya di sana, mereka menemukan bahwa motor laut yang dijadwalkan berangkat belum bisa berlayar. Elda pun menitipkan barang-barangnya di motor laut tersebut, memastikan keberangkatannya esok hari.
Namun, komunikasi antara Elda dan Ardus kembali berlanjut. Ardus mengirim pesan melalui WhatsApp kepada ayah kandung Elda, Ardianus Jehadun, mengabarkan kepastian keberangkatan.
“Bapa, toe jadi mo motor hitu nger sale Labuan Bajo leso ho’o”, kata Ardianus Jehadun mengikuti pesan tertulis di WhatsApp. Sayangnya, pesan itu tak langsung direspon oleh Adrianus Jehadun.
Sore harinya, Elda dan ibunya kembali ke rumah di Watu Langkas. Tak lama setelah itu, ayahnya menghubungi Ardus untuk mengonfirmasi kepulangan Elda keesokan harinya. Ardus dengan tenang menanggapi, Bapa, tidak masalah. Dia bisa berangkat kapan saja.
“Dia hitu graa Bapa, eme diang ise jadi mai”, ungkap Ardi meniru percakapan telpon tersebut.
Keesokan harinya, Senin, 30 September 2024, sekitar pukul 07.00 WITA, Elda akhirnya pulang ke Nggilat, diantar oleh ayahnya ke pelabuhan Labuan Bajo. Sebelum berpisah, ayahnya membeli kue sebagai oleh-oleh untuk cucunya, Aurel.
Saat Elda dalam perjalanan, ayahnya kembali menghubungi Ardus, memberi tahu bahwa anaknya sedang dalam perjalanan pulang dan siap dijemput di Kampung Londar. Ardus mengonfirmasi dengan tenang bahwa semua akan berjalan baik.
Malam harinya, sekitar pukul 20.00 WITA, Elda menelepon kedua orang tuanya, mengabarkan bahwa dia telah tiba dengan selamat di Kampung Nggilat. Suasana telepon tersebut penuh kelegaan, meski Elda kembali mengingatkan orang tuanya untuk terus berusaha mencari pinjaman yang ia butuhkan.
Tiga hari kemudian, Kamis, 3 Oktober 2024 sekitar pukul 08.40 WITA, Elda menelepon lagi untuk menanyakan perkembangan pinjaman. Sang ibu dengan suara lembut menjawab bahwa mereka masih berusaha.
Pada hari yang sama, ibunya berhasil meminjam uang dari tetangga, meski dengan bunga 10 persen. Ketika diberi tahu, Elda menyetujui dan berterima kasih atas segala upaya orang tuanya.
Namun, pada pagi itu, ada dua panggilan tak terjawab dari Elda. Ayahnya, yang sedang dalam perjalanan menuju Labuan Bajo untuk membeli pupuk, tidak sempat menjawab panggilan tersebut.
“Dua panggilan tak terjawab dari anak Elda.
Panggilan pertama di pukul 09.09 WITA, sedangkan panggilan kedua di pukul 09.28 WITA”, ungkap Ardi, ayah kandung Elda.
Ketika ia memeriksa ponselnya di area Pilipo Desa Nggorang, ia melihat pesan dari Elda hanya bertuliskan “pp”, singkatan dari papa. Namun, pesan itu tidak dibalas karena sang ayah masih melanjutkan perjalanannya.
Sesampainya di toko pupuk, tiba-tiba ponsel sang ayah berdering. Keluarga Elda, iparnya Natilia Din, menelepon dari Kampung Nggilat. “Ada yang terjadi, anak kita sudah pergi,” katanya dengan suara gemetar. Tidak ada penjelasan lebih lanjut, hanya kabar duka bahwa Elda telah tiada.
“Persis di depan toko milik Suherman, tidak sempat belanja pupuk, saya ditelpon dari keluarga Mama Elda (Ipar dari istrinya) yang berada di Kampung Nggilat. Nia ite, toe nuk anak gemi ko. Mai sale mai gaa, toe manga Elda no’o gaa”, meniru percakapan telepon dengan keluarga tersebut.
Kabar itu membuat sang ayah terguncang. Ia langsung bergegas pulang, pikirannya penuh dengan kebingungan dan kesedihan.
Setibanya di rumah, ia dengan berat hati memberitahukan istrinya, Elda sudah tidak bersama mereka lagi, dia sudah meninggal dunia.
Tangisan pecah memenuhi rumah mereka di Watu Langkas. Suasana berubah menjadi lautan air mata, dan warga sekitar berdatangan untuk memberikan dukungan di tengah duka yang mendalam.
Keluarga Korban ke Nggilat
Kabar duka yang tiba-tiba menghantam keluarga Elda seperti petir di siang bolong. Dalam kesedihan mendalam, mereka segera berkoordinasi dengan pemerintah desa Nggilat dan masyarakat setempat untuk mengurus pemulangan jenazah Elda ke kampung halamannya di Watu Langkas, Desa Nggorang, Kecamatan Komodo.
Rasa duka dan ketidakpercayaan bercampur menjadi satu, namun tekad keluarga tetap teguh, mereka harus membawa pulang Elda untuk dimakamkan dengan layak.
Keluarga berangkat menuju Nggilat menggunakan beberapa kendaraan. Tiba di kampung Nggilat sekitar pukul 20.00 Wita, keluarga dengan perasaan yang begitu berat.
Mereka menemukan pemandangan yang tak terbayangkan, jenazah Elda masih tergelatak di lantai, dalam kondisi mengenaskan. Suasana duka yang menyelimuti keluarga seketika berubah menjadi kemarahan.
Namun, apa yang mereka saksikan di rumah tersebut membuat ayah kandung Elda semakin terkejut. Tidak ada Ardus, suami Elda, atau kedua orang tuanya di sana, yang ada hanyalah beberapa warga setempat, perwakilan pemerintah desa, anggota TNI, dan pihak kepolisian. Ketidakhadiran Ardus dan keluarganya menimbulkan pertanyaan besar di benak keluarga korban.
Pit Pampur, perwakilan keluarga korban, mempertanyakan keberadaan Ardus dan keluarga kepada Kepala Desa Nggilat. Nada bingung, sang Kades mengakui bahwa ia juga tidak mengetahui keberadaan mereka. Diketahui kemudian bahwa Ardus beserta orang tuanya berada di rumah warga lain, jauh dari lokasi kejadian.

Keluarga korban pun mendesak agar keluarga Ardus segera hadir untuk memberikan penjelasan. Namun, yang muncul hanyalah ayah Ardus, Levi Yohanes Nuang, yang datang mengenakan celana pendek dan kaos, tanpa menunjukkan tanda-tanda kesedihan atau rasa duka. Kehadirannya yang tampak santai di tengah situasi tragis ini menambah kekecewaan keluarga Elda.
Suara yang dipenuhi kemarahan, keluarga korban mempertanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Elda. Ayah Ardus hanya menjawab singkat bahwa ia tidak mengetahui kejadian tersebut. “Saya ke kebun sekitar pukul 09.00 WITA,” katanya.
Namun, jawabannya terdengar datar, tanpa ada penjelasan lebih lanjut. Ketika ditanya siapa yang melaporkan kejadian itu kepadanya, ia hanya diam, tidak memberikan jawaban pasti, seolah menyembunyikan sesuatu.
Pit Pampur kembali menekan dengan pertanyaan mengenai posisi Ardus saat kejadian tragis itu berlangsung. Namun, sekali lagi, ayah kandung Ardus memberikan jawaban yang sama, tidak tahu. Ketidakpuasan semakin meluap di antara pihak keluarga korban.
Merasa tidak mendapatkan jawaban yang memadai dari ayah Ardus, keluarga korban akhirnya memutuskan untuk meminta penjelasan kepada toko masyarakat setempat. Mereka berharap, melalui jalur adat, kebenaran tentang kejadian ini dapat diungkap dan keadilan bagi Elda bisa ditegakkan.
Hasil Visum Elda
Pada malam yang kelam itu, keluarga korban membawa jenazah Elda dari Kampung Nggilat, berangkat sekitar pukul 22.00 WITA. Perjalanan panjang penuh duka dan kecemasan berakhir di RSUD Komodo pada Jumat, 4 Oktober 2024 sekitar pukul 02.00 WITA.

Di sana, mereka menyerahkan tubuh Elda kepada pihak medis untuk dilakukan visum guna mengungkap lebih jauh apa yang sebenarnya terjadi.
Visum dimulai pada pukul 06.56 WITA, saat hari baru mulai menyingsing, dan berakhir pada pukul 09.00 WITA. Selama proses tersebut, tim medis bersama keluarga korban menemukan luka-luka yang mengungkap penderitaan yang dialami Elda sebelum ajal menjemputnya.
Pada bagian bawah lutut kirinya, terlihat jelas sobekan yang disebabkan oleh benda tajam, meninggalkan jejak kekerasan yang tak terbantahkan. Lebam mengerikan menghiasi paha kiri dan kanan, seolah menunjukkan bekas benturan keras. Di rahang kirinya, tampak bengkak yang menandakan adanya kekerasan fisik yang brutal.
Luka lain ditemukan di bagian perut bawah sebelah kanan, sementara goresan tajam melukai tangan kirinya, menguatkan dugaan bahwa Elda sempat melawan atau mencoba mempertahankan diri.
Bekas lebam juga ditemukan di leher bawah, disertai tanda-tanda cekikan di sekitar leher, membuat dugaan kekerasan semakin jelas. Di pelipis kanannya, lebam lain terlihat, mempertegas betapa kerasnya penderitaan yang harus dialami Elda sebelum ajal menjemput.
Tidak hanya itu, bagian punggung Elda juga penuh dengan lebam, seakan mengisyaratkan benturan atau pukulan yang terus-menerus. Meski begitu, lidahnya tidak terjulur, dan matanya tertutup seakan ia sedang tertidur, meninggalkan kesan damai yang kontradiktif dengan luka-luka brutal yang ada di tubuhnya.
Anehnya, tangan kirinya terasa kaku, sementara tangan kanannya lembek dan lentur, sebuah kondisi yang membuat keluarga semakin bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada saat-saat terakhir Elda.
Penemuan-penemuan ini tidak hanya meninggalkan keluarga dalam duka mendalam, tetapi juga dengan pertanyaan yang belum terjawab tentang bagaimana Elda kehilangan nyawanya. Luka-luka tersebut adalah saksi bisu dari sebuah tragedi yang masih menjadi misteri.
Misa Penguburan dan Pemakaman
Usai proses visum, prosesi penguburan Elda dilaksanakan pada Jumat, 4 Oktober 2024. Misa penguburannya dimulai sekitar pukul 16.00 WITA, dihadiri oleh keluarga, sahabat, dan kerabat yang datang dari berbagai penjuru untuk mengucapkan selamat tinggal terakhir.
Suasana penuh kesedihan menyelimuti seluruh upacara, di mana doa-doa dipanjatkan untuk Elda agar ia menemukan kedamaian di sisi-Nya.
Sekitar pukul 17.00 WITA, jenazah Elda dimakamkan di TPU Watu Langkas, Desa Nggorang. Langit sore yang mulai meredup menambah kesan suram saat peti jenazah Elda perlahan-lahan diturunkan ke liang lahat.
Tangisan dan isak tangis keluarga dan orang-orang terdekatnya mengiringi proses pemakaman, menyiratkan betapa besar rasa kehilangan yang dirasakan oleh mereka yang ditinggalkan.
Proses pemakaman ini menutup babak tragis dalam hidup Elda, namun bagi keluarga, pertanyaan dan ketidakpastian tentang apa yang sebenarnya terjadi pada putri mereka masih terus menggelayuti. Mereka hanya berharap bahwa kebenaran akan segera terungkap dan keadilan bagi Elda dapat ditegakkan. **
Penulis : Rino
Editor : Redaksi










